Pages

12 May 2010

“ KADERISASI, NILAI HAKIKI YANG (BELUM) MATI”

Derasnya hujan mengiringi rebahnya diri ini di salah satu sudut kampus tercinta ini. Suasana yang syahdu mengantarkanku untuk melayang bersama angan dan pikiranku. Nuansa bening yang dihadirkan oleh harmonisasi gemericik hujan dan hembusan sang bayu mengiringiku menjelajah alam pikir dan imajinasiku menembus ruang batas otak yang penuh dengan gejolak pemikiran terkait kondisi kaderisasi di jurusan ini. Ya! Sebuah hal yang (sepertinya) sudah menjadi bahan obrolan utama di Sipil ITS dari generasi ke generasi. Ditemani derasnya hujan yang penuh sensasi tersendiri ini, jiwa ini berusaha menerawang jauh, berkelana mencari hakikat kaderisasi yang sesungguhnya, bermodal rasio dan hati nurani yang semoga tidak mati.

Di tengah upaya otak ini untuk menemukan jawaban dari semua kegundahan hati ini, terlintas sesuatu hal dalam pikiranku ini. Sesuatu hal yang menghadirkan sebuah keyakinan dalam hati ini bahwa hal inilah yang akan memegang peran strategis untuk mengurai benang kusut kaderisasi saat ini dan seterusnya. Sebuah hal berbentuk konsep fundamental yang sejatinya merupakan filosofi pendidikan Nasional yang berasal dari pemikiran Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Filosofi itu berbunyi “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Sebuah filosofi sederhana namun bersifat universal dan bermakna mendalam di dunia pendidikan yang berarti “Di depan memberi contoh, di tengah membangun kekuatan, di belakang mengikuti”. Inilah jawaban yang kubutuhkan ! Inilah hakikat kaderisasi yang sesungguhnya!

Bagaimana bisa ? Berikut ini analisis dari logika dan hatiku.

Pendidikan merupakan sebuah aspek fundamental yang akan menentukan kualitas hidup seseorang, dalam lingkup sempit, dan bangsa dalam lingkup yang luas. Pendidikan bisa diartikan sebagai sebuah kesatuan proses mendidik. Jika ditelaah lebih lanjut, inti dari pendidikan adalah interaksi antara yang mendidik dan yang dididik. Ketika proses interaksi dan substansi interaksi yang mengiringi sangat berkualitas, maka akan berkualitas pula hasil dari pendidikan tersebut.

Sebagai sebuah bagian dari pendidikan, kaderisasi merupakan sebuah keniscayaan. Dalam tataran organisasi, kaderisasi, yang berarti proses pembentukan kader, mutlak dibutuhkan demi tumbuh kembangnya sebuah organisasi. Dari kaderisasi tersebut, diharapkan akan muncul sosok penerus dengan karakteristik tertentu yang akan dibutuhkan sebuah organisasi untuk menjaga keberlangsungan sebuah organisasi demi tercapainya tujuan organisasi tersebut. Karena kaderisasi merupakan bagian dari pendidikan, tentu saja dalam praktik penyelenggaraannya harus menggunakan filosofi pendidikan pula, yakni “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Jika dikaitkan antara filosofi di atas dengan kaderisasi, akan muncul sebuah makna yang lebih komprehensif dan lebih lengkap jika dibandingkan dengan pemahaman kaderisasi yang umum digunakan saat ini. Sudah jamak diketahui dan ditemui di dunia kemahasiswaan, khususnya di ITS, hampir semua organisasi yang ada mengimplementasikan system kaderisasi dengan hanya menitikberatkan pendekatan pada pihak yang dikader (dididik) dan melupakan aspek lain yang tak kalah penting yakni pihak yang mengkader. Akibat yang muncul adalah kaderisasi yang tidak sehat. Hal ini seharusnya tidak akan terjadi jika filosofi yang tersebut di atas digunakan sebagai landasan dalam pelaksanaan kaderisasi.

Ing Ngarsa Sung Tuladha. Sebuah frase yang berarti “Di depan memberi contoh” di mana jika dikaitkan dengan kaderisasi maka hal ini bermakna bahwa fase penting pertama dalam kaderisasi adalah adanya generasi tua yang mampu memberikan contoh. Generasi tua didefinisikan sebagai generasi yang telah melewati dan memegang fase kaderisasi sebelumnya. Generasi tua, sebagai generasi yang telah mengenyam asam garam kehidupan, mempunyai kewajiban untuk memberikan teladan yang seharusnya kepada generasi yang lebih muda. Dengan pengalaman yang telah lebih dahulu didapatkan, generasi tua diharapkan mampu mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran secara utuh dan konsekuen. Realitanya, banyak sekali generasi tua yang tidak demikian adanya. Kebanyakan dari mereka “berkoar-koar” meneriakkan nilai-nilai kebajikan namun tidak diimbangi dengan kapasitas keteladanan yang memadai. Akibatnya, hal negative yang muncul adalah ketidakpercayaan. Ketika ketidakpercayaan sudah tumbuh, jangan harap kaderisasi akan berjalan dengan optimal.

Ing Madya Mangun Karsa. Frase kedua yang berarti “Di tengah membangun kekuatan” yang jika dikaitkan dengan kaderisasi maka hal ini akan bermakna bahwa fase penting selanjutnya adalah adanya generasi setingkat di bawah generasi tua, atau bisa disebut generasi pembangun, yang mampu mewujudkan system kaderisasi yang kuat dan optimal. Hal ini bisa diartikan juga bahwa sistem dan metode kaderisasi yang ada memegang peranan tersendiri dalam proses kaderisasi. Ketika generasi pembangun mampu mewujudkan sebuah system yang baik, tentu saja kaderisasi akan berjalan dalam koridor yang seharusnya.

Tut Wuri Handayani. Frase ketiga yang berarti “Di belakang mengikuti” di mana ini lebih mentikberatkan pada peran serta pihak yang dikader. Hal ini merupakan fase penting terakhir yang menentukan pula kualitas kaderisasi. Dalam fase ini, poin utama yang menjadi kunci adalah adanya kepercayaan dari generasi muda sebagai pihak yang dikader untuk mengikuti apa yang telah digariskan oleh pengkader. Tentu saja, kepercayaan tersebut akan lahir jika diawali oleh kapasitas keteladanan yang memadai oleh pihak pengkader.

Dari penjabaran di atas, bisa dipastikan sebuah kunci awal penentu suksesnya sebuah kaderisasi, yakni nilai keteladanan. Jika kaderisasi diibaratkan sebagai sebuah bangunan, keteladanan adalah pondasi yang menopangnya. Ketika nilai keteladanan tidak bisa terpenuhi, jangan harap sebuah kaderisasi akan berdiri tegak dan memberikan hasil yang berkualitas.

Jadi, jika realita yang terjadi terkait kaderisasi adalah system kaderisasi yang kurang optimal, hal yang perlu dinilai pertama kali adalah keteladanan yang muncul dalam system kaderisasi tersebut. Jikalau nilai-nilai keteladanan tidak hadir dengan kapasitas seharusnya, solusinya adalah “Singkirkan Generasi Tua yang Kurang Memberi Teladan dan Biarkan Kita, Generasi Pembangun, menjadi Teladan dengan Menciptakan Sistem Kaderisasi yang Optimal dan Terpercaya !”

Salam SATU HATI !!!
Hidup Mahasiswa !!!
Hidup Rakyat Indonesia !!!

Surabaya, 31 Maret 2010
Muhlas Hanif Wigananda
3108100125

02 May 2010

Apa Kabar Suara Hati ?
(Part I)

Entah mengapa, dalam beberapa hari ini aku seperti orang yang kebingungan. Seperti ada yang menghantui organ pengatur hidupku, namun aku sendiripun tak bisa mendeskripsikan ‘pengganggu’ itu, makhluk tak kasat mata yang mengiringi langkah hidupku beberapa saat terakhir.

Ku coba menerka-nerka sesuatu yang selalu membuatku berpikir akhir-akhir ini. Ku merenung, mencoba menjelajahi alam pikirku untuk mencari tahu dan memperoleh jawab itu. Terbersit beberapa jawaban yang sayangnya aku pun tak tahu apakah memang benar ‘mereka’ yang membuatku tak tenag akhir-akhir ini.

Kubayangkan. Kupikirkan. Kurenungkan.

Mulai dari dinamika kampus yang kontras dengan dunia kemahasiswaan di Sipil, atau karena perbaikan prinsipku terkait reorientasi akademikku. Semua itu belum mapu menjawab tanda tanya besar di dalam benakku. Bahkan, ketika yang terlintas adalah sebuah rasa pesimisme terkait himpunan ke depan, aku pun tak yakin itu adalah jawabnya.

Yah…Mungkin saat ini hanya diri ini yang merasakan hal tersebut. Entah itu akibat karakteristik koleris-melankolis yang ‘kata’ LKMM Pra TD ada di dalam diriku. Yang jelas saat ini aku merasa ‘sendiri’. Sendiri dalam arti hanya aku dan segelintir orang yang mau memperjuangkan nilai-nilai kemahasiswaan bisa diterapkan secara utuh dan konsekuen khususnya di lingkunagn jurusanku. Rekan-rekan angkatanku yang notabenenya adalah keluarga seperjuanganku belum terlalu proaktif untuk mengimplementasikan peran dan fungsi mahasiswa yang telah mereka dapatkan sepanjang hidup mereka di Sipil. Padahal, secara potensi aku yakin angkatankulah yang berada di garda terdepan. Sayangnya, potensi itu belum diimbangi oleh kemauan personal dan komunal yang membara. Kebanyakan dari mereka masih terbelenggu dalam paradigma akademik yang kurang sesuai dengan koridor yang seharusnya, dan ironisnya masih banyak yang menggunakan akademik sebagai ‘tameng’ yang dibuat-buat. Sebuah potret buram dari dunia kemahasiswaan di Sipil pada khususnya.
Hal tersebut yang mendasariku untuk melakukan sebuah perubahan ‘kecil’ dalam diriku seperti yang pernah ku tulis sebelumnya, yakni reorientasi akademik di mana aku berusaha menerapkan nila-nilai dasar akademik secara konsekuen sehingga hasil yang ku dapat benar-benar menggambarkan usahaku. Selain itu, aku juga termotivasi untuk menyajikan fakta bermakna definitive bahwa kademik dan non akademik bisa disandingkan dengan baik jika kita mampu berjuang dengan berlandaskan nilai-nilai kejujuran dan kepekaan. Ku kira memang bukan hal mudah mewujudkan hal tersebut. Perlu komitmen dan integritas yang tinggi sebagai modal kesadaran. Namun tentunya akan memberikan dampak signifikan dan memacu rekan-rekanku untuk melakukan hal serupa apabila usahaku itu terwujud.
Sejujurnya, aku merasa iri dengan dinamika jurusan lain yang begitu kentara, menenggelamkan Sipil dengan segala idealisme tumpulnya, meruntuhkan Sipil dengan keprimordialannya dan menyingkirkan Sipil dari peredaran dalam KM ITS. Namun hujatan, cacian dan kecaman tidak akan membuat permasalahan itu selesai begitu saja. Yang dibutuhkan sekarang adalah tekad untuk bangkit dan merajai kehidupan kemahasiswaan KM ITS, serta sikap yang secara konsisten dan konsekuen untuk mengaplikasikan peran dan fungsi mahasiswa demi tercapainya amanat yang terkandung dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Bbbeuuuhhh….renungan sejenakku ini sudah membuatku membual alias tembereng…hahahaha….Entah ini sudah mampu menjawab keresahan diriku ini atau belum. Yang bisa kulakukan hanyalah bertindak sesuai dengan hati nuraniku untuk selalu memberikan sesuatu yang terbaik. Yang jelas setiap manusia memiliki waktu yang sama, yang membedakan hanyalah pemanfaatannya.

Bergerak ataukah terpuruk dalam jurang kenistaan ???




Surabaya, 16 Februari 2010
Muhlas Hanif Wigananda
3108100125