Pages

18 December 2012

Sebuah Coretan Nostalgia: Progresivitas dalam Persahabatan (Part 1)


BEM ITS
2011 – 2012
“Progresif & Bersahabat”

VISI :

Kesatuan KM ITS yang Progresif untuk Almamater dan Bangsa.


MISI :

1.    Mewujudkan BEM ITS yang Progresif dan Bersahabat.
2.    Mendorong terwujudnya sinergisitas KM ITS.
3.  Penguatan peran strategis elemen KM ITS dalam penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan pergerakan mahasiswa Indonesia.



INTEPRETASI VISI :

Visi yang lahir dari sebuah pemikiran yang mendalam dan cakrawala sudut pandang yang luas serta didedikasikan sebagai  jawaban atas kebutuhan bersama dari KM ITS akan Kesatuan dan Pengabdian. Visi ini tersusun atas dua klausa, yakni substansi visi dan orientasi visi sebagai berikut :

Kesatuan KM ITS yang Progresif

            Keluarga Mahasiswa ITS (KM ITS) adalah miniatur Indonesia yang penuh dengan keberagaman, baik sistem kemahasiswaannya maupun sosial kultural kehidupan mahasiswanya. Keberagaman yang menjanjikan kekuatan yang begitu besar jika KM ITS menyadarinya. Karena itu, KM ITS butuh Kesadaran, KM ITS butuh Keterbukaan, KM ITS butuh Kepercayaan, KM ITS butuh Kepedulian, KM ITS butuh Kebersamaan, KM ITS butuh Kekeluargaan dan KM ITS butuh Kesatuan.

            Ya, KM ITS butuh Kesatuan.

         Sebuah Kesatuan yang dibangun atas dasar Kesadaran, Keterbukaan, Kepercayaan, Kepedulian, Kebersamaan dan Kekeluargaan. Sebuah Kesatuan yang dibangun tanpa memandang golongan, kelompok atau kepentingan tertentu. Sebuah Kesatuan yang mengikat elemen KM ITS untuk saling membangun, mendukung dan memperkuat sinergisitas antarelemen KM ITS dalam bergerak mengawal perubahan-perubahan yang terjadi. Sebuah Kesatuan yang bernafaskan semangat kemajuan dan hasrat untuk senantiasa menjadi lebih baik. Sebuah Kesatuan yang dibangun dengan sebuah prinsip yang pasti : Dari, Oleh dan Untuk KM ITS.

            Ya, Kesatuan KM ITS yang Progresif.

Untuk Almamater dan Bangsa

Kesatuan KM ITS yang Progresif adalah sebuah komitmen dan upaya nyata untuk senantiasa bergerak dan mengawal dinamika kehidupan kampus dan masyarakat. Kesatuan KM ITS yang Progresif adalah sebuah komitmen dan tanggung jawab moral untuk senantiasa menghadirkan kemajuan dan perubahan positif bagi kampus dan masyarakat. Kesatuan KM ITS yang Progresif adalah sebuah komitmen dan dedikasi untuk menunjang penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berkualitas. Kesatuan KM ITS yang Progresif  adalah sebuah pengabdian dan kontribusi untuk ITS dan Indonesia.

Kesatuan KM ITS yang Progresif untuk Almamater dan Bangsa.



INTEPRETASI MISI :

Untuk mencapai Visi yang tersebut di atas maka diperlukan langkah-langkah strategis yang terwujud dalam kesatuan Misi. Kesatuan Misi ini merupakan wujud target pencapaian bertahap yang saling terikat dalam bidang Internal BEM ITS, bidang Internal KM ITS dan bidang Eksternal KM ITS. Berikut ini adalah penjelasan arah Misi yang dilaksanakan :

  1. Mewujudkan BEM ITS yang Progresif dan Bersahabat.
Misi ini merupakan titik awal yang menjadi tonggak dalam upaya pencapaian Visi Kesatuan KM ITS yang Progresif. Sebagai salah satu organisasi yang memiliki peran sentral dalam dinamika KM ITS, BEM ITS tentulah harus menjadi organisasi yang berkualitas dan mampu menjalankan peran dan fungsinya seoptimal mungkin.

BEM ITS memiliki fungsi sebagai eksekutif dalam KM ITS sehingga sudah seharusnya BEM ITS bisa dekat dan mengayomi mahasiswa ITS menuju sistem kehidupan kemahasiswaan yang lebih baik. BEM ITS harus menjadi mitra yang strategis bagi pengembangan organisasi tiap elemen KM ITS. BEM ITS haruslah dekat dan bersahabat dengan seluruh elemen KM ITS sehingga BEM ITS benar-benar bisa dirasakan kehadirannya dan menghadirkan kemanfaatan seluas-luasnya bagi KM ITS. BEM ITS yang Progresif dan Bersahabat akan menjadi langkah awal yang signifikan dalam upaya mendorong terwujudnya sinergisitas KM ITS.


  1. Mendorong terwujudnya sinergisitas KM ITS
Misi ini merupakan target pencapaian selanjutnya dalam mewujudkan visi kesatuan KM ITS yang Progresif. Ketika BEM ITS telah menjadi sebuah organisasi yang progresif dan bersahabat, dalam arti menjadi organisasi yang mampu menjalan peran fungsinya secara optimal dan dirasakan kedekatan serta kemanfaatannya oleh KM ITS, hal ini akan menjadi rangsangan positif bagi seluruh elemen KM ITS yang tersusun dari keberagaman budaya dan karakter masing-masing untuk bergerak menuju perubahan yang lebih baik. Ketika BEM ITS telah dirasakan begitu dekat dengan seluruh elemen KM ITS, hal ini akan menghilangkan sekat-sekat struktural dan kultural yang selama ini menjadi hambatan komunikasi dan interaksi antarelemen KM ITS.

Dengan semakin berkurangnya hambatan-hambatan komunikasi dan interaksi tersebut, akan mendorong terciptanya keterbukaan dan saling percaya antar elemen KM ITS. Keterbukaan dan kepercayaan yang lahir tersebut akan menghantarkan KM ITS menuju kehidupan yang lebih harmonis. Keharmonisan tersebut akan menjadi sebuah pemicu lahirnya kesadaran dan kepedulian antarelemen KM ITS. Kepedulian yang lahir itu akan menjadikan setiap elemen KM ITS memiliki keterikatan yang proaktif untuk saling membangun, mendukung dan memperkuat sehingga terwujud sinergisitas KM ITS. Ketika sinergisitas KM ITS telah terwujud, ini akan menjadi sebuah kekuatan besar dan potensial untuk menghasilkan berbagai macam bentuk pergerakan, pengabdian dan kontribusi bagi bangsa dan negara.

  1. Penguatan peran strategis elemen KM ITS dalam penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan pergerakan mahasiswa Indonesia.
Misi ini merupakan target akhir menuju Kesatuan KM ITS yang Progresif untuk Almamater dan Bangsa. Tak bisa dipungkiri bahwa realita yang ada menunjukkan bahwa setiap pergerakan yang mengatasnamakan ITS selama ini tak pernah berjalan optimal. Elemen-elemen KM ITS dipandang kurang dilibatkan dalam berbagai bentuk pergerakan semacam itu sehingga sering muncul pertanyaan ataupun tanggapan yang kurang menyenangkan terkait pergerakan yang dilakukan, baik dari internal KM ITS maupun eksternal KM ITS. Hal ini disebabkan karena mayoritas elemen KM ITS lebih memilih melakukan pergerakan sendiri daripada pergerakan yang terintegrasi akibat sistem pergerakan ITS yang kurang tertata. Padahal, pergerakan yang terintegrasi lebih menjanjikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat.

Sinergisitas KM ITS akan menjadi sebuah modal kuat menghadirkan perbaikan bagi masyarakat. Kondisi sinergis yang tercipta akan mendorong keterlibatan setiap elemen KM ITS dalam berbagai langkah pengabdian dan kontribusi untuk bangsa dan negara. Sinergisitas yang optimal akan berbanding lurus dengan sistem pergerakan mahasiswa ITS yang lebih tertata dan lebih bermanfaat. Sinergisitas KM ITS akan melahirkan sebuah pergerakan yang terintegrasi dengan ruang lingkup cakupan yang jauh lebih luas. Hal ini akan memberikan pengaruh besar bagi kualitas penerapan Tri Dharma perguruan Tinggi dan pergerakan mahasiswa Indonesia yang dilakukan oleh KM ITS. Dengan begitu, pengabdian dan kontribusi KM ITS akan lebih dirasakan manfaatnya oleh bangsa dan negara. Dan, kita bisa dengan bangga mengatakan : Kesatuan KM ITS yang Progresif untuk Almamater dan Bangsa, ITS Ada Untuk Indonesia.



AKU & PERGERAKANKU…

-       Niat ini lahir karena keikhlasan dan keberanian untuk senantiasa berjuang di jalan Allah SWT
-          Niat ini lahir sebagai bentuk komitmen pengabdian tiada henti untuk KM ITS
-          Niat ini lahir dari keprihatinan yang mendalam akan kekinian KM ITS
-          Niat ini berkembang menjadi hasrat dan tekad kuat karena dukungan dan harapan keluarga, sahabat, rekan-rekan angkatan dan HMS,  serta mahasiswa ITS secara umumnya melalui beberapa rekan Presidium FTSP ITS dan BEM ITS untuk memberikan kemanfaatan bagi KM ITS
-          Niat ini diperkuat dengan pertimbangan sebagai pembelajaran dan pengembangan dinamisasi HMS ITS.
-          Niat ini adalah perwujudan dari rasa memiliki terhadap BEM ITS yang ada dalam sanubari.
-          Niat ini menjadi visi untuk mewujudkan “Langit Biru ITS yang Satu”

Pertimbangan-pertimbangan di atas merupakan dasar pergerakan dan bulatnya tekad untuk mencalonkan diri sebagai Presiden BEM ITS 2011 – 2011. 

Niat ini bukan yang terbaik, namun semoga niat ini mendekati kebutuhan KM ITS untuk menjadi lebih progresif, sinergis dan kontributif. Insya Allah, Allah SWT meridhoi. Amiin

12 December 2012

21 HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI (Bagian 1)

Selamat sore, kawan!

Tulisan ini saya rangkai di sela-sela aktivitas saya di kantor…
Maklum saja, sebagai peserta Management Training yang baru sebulan menjalani proses On The Job Training di Wika, amanah pekerjaan yang ada masih belum terlalu menyita waktu, jadi saya coba memanfaatkan waktu agar saya tetap bisa produktif dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Dalam tulisan ini, saya akan berbagi tentang point-point ringkasan isi sebuah buku yang menurut saya sangat bagus dan aplikatif, “21 Hukum Kepemimpinan Sejati” karya John C. Maxwell.
Karena relatif banyak, maka akan saya bagi menjadi beberapa postingan yang bersambung.

Semoga bermanfaat, kawan! :)


HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI

1.     HUKUM KATUP
Kemampuan Memimpin Menentukan Tingkat Keefektifan Seseorang

·         Kemampuan memimpin adalah katup yang menentukan tingkat keefektifan seseorang. Semakin rendah kemampuan seseorang untuk memimpin, semakin sedikit katup yang terbuka bagi potensinya. Semakin tinggi kepemimpinannya, semakin besar keefektifannya --- dalam pandangan saya, semakin tinggi kepemimpinannya, semakin besar kebermanfaatannya. J
·         Semakin tinggi Anda ingin mendaki, semakin Anda membutuhkan kepemimpinan. Semakin besar dampak yang ingin Anda berikan, pengaruh Anda harus semakin besar.


 2.     HUKUM PENGARUH
Ukuran Sejati dari Kepemimpinan adalah Pengaruh --- Tidak Lebih, Tidak Kurang

·         Jika Anda tidak punya pengaruh, Anda takkan pernah dapat memimpin orang lain.
·         “Anda  telah mencapai kesempurnaan sebagai seorang pemimpin jika orang mengikuti Anda ke mana-mana walaupun hanya karena ingin tahu.” (Colin Powell)
·         Kepemimpinan sejati tak dapat dianugerahkan, ditunjuk, atau ditugaskan. Kepemimpinan hanya dating dari pengaruh, dan itu tak dapat dimandatkan. Harus diraih.
·         Lima Mitos Kepemimpinan
a.       Mitos Manajemen
Ada suatu kesalahmengertian yang luas bahwa memimpin serta mengelola itu sama.  Perbedaan utama kepemimpinan dan manajemen adalah bahwa kepemimpinan itu soal mempengaruhi orang lain sehingga menjadi pengikut, sementara manajemen memfokuskan pada sistem serta proses. Para manajer dapat mengelola arahan, namun tak dapat mengubahnya. Untuk menggerakkan orang kea rah yang baru, Anda membutuhkan pengaruh.
b.      Mitos Usahawan
Seringkali, orang berasumsi bahwa semua usahawan adalah pemimpin. Namun tidaklah selalu demikian. Orang mungkin membeli barang yang dijualnya, namun tidak menjadi pengikut dia
c.       Mitos Pengetahuan
Kebanyakan orang, yang percaya bahwa pengetahuan adalah inti dari kepemimpinan, otomatis berasumsi bahwa mereka yang memiliki pengetahuan dan intelijensilah yang menjadi pemimpin. Namun, tidak otomatis demikian. IQ belum tentu menjamin kemampuan memimpin.
d.      Mitos Pelopor
Ada lagi konsepsi keliru bahwa siapapun yan ada di depan kerumunan orang banyak adalah seorang pemimpin. Namun menjadi yang petama tidaklah selalu sama dengan memimpin. Untuk menjadi pemimpin, seseorang bukan saja harus berada di depan, melainkan juga berhasil membuat orang-orang mengikuti di belakangnya, mengikuti pimpinannya, dan menindaklanjuti visinya.
e.       Mitos Posisi
Kesalahmengertian yang terbesar tentang kepemimpinan adalah bahwa orang menyangka kepemimpinan itu didasarkan pada posisi, padahal bukan. “Bukan posisi yang menjadikan seseorang pemimpin, justru kepemimpinannyalah yang membuat posisi tersebut.” (Stanley Huffty).
·         “Inti dari segala kuasa untuk mempengaruhi terletak pada kemampuan membuat orang lain berpartisipasi.” (Harry A. Overstreet)
·         Ia yang menyangka memimpin namun tidak punya pengikut, hanya jalan-jalan saja. Jika Anda tak dapat mempengaruhi orang lain, mereka takkan menjadi pengikut Anda. Dan jika mereka tidak menjadi pengikut Anda, Anda bukan seorang pemimpin. Itulah Hukum Pengaruh.


 3.     HUKUM PROSES
Kepemimpinan Berkembang Setiap Hari, Bukan Dalam Satu Hari

·         Kepemimpinan adalah seperti berinvestasi --- yang akan berakumulasi.
Ø  Menjadi seorang pemimpin sngat mirip dengan berinvestasi dengan sukses dalam pasar saham. Jika Anda mengharapkan kaya dalam satu hari, Anda takkan berhasil.
Ø  “Rahasia sukses kita terletak dalam agenda kita sehari-hari.” (Tag Short)
Ø  Walaupun benar bahwa ada orang yang dilahirkan dengan karunia alami yang lebih besar daripada yang lain, kemampuan memimpin itu sesungguhnya merupakan kumpulan dari berbagai keterampilan, yang hampir seluruhnya dapat dipelajari serta ditingkatkan. Namun prosesnya tidak terjadi dalam semalam. Kepemimpinan itu rumit. Aspeknya sangat banyak: kehormatan, pengalaman, kekuatan emosional, keterampilan membina hubungan dengan sesame, disiplin, visi, momentum, waktu dan seterusnya. Itulah sebabnya mengapa para pemimpin membutuhkan begitu banyak pengalaman agar menjadi efektif (bermanfaat).
·         Pemimpin adalah orang yang belajar.
Ø  “Kemampuan untuk berkembang serta meningkatkan keterampilannyalah yang membedakan pemimpin dengan para pengikutnya.” (Warren Benis & Burt Nanus)
Ø  Pemimpin yang sukses adalah orang yang belajar. Dan proses belajarnya berkelanjutan, sebagai hasil dari disiplin diri dan ketekunan. Sasaran setiap harinya haruslah menjadi sedikit lebih baik, membangun di atas kemajuan hari sebelumnya.
·         Empat Fase Pertumbuhan Kepemimpinan
a.       Fase 1: Saya Tidak Tahu Apa yang Tidak Saya Ketahui.
-          Selama seseorang tidak mengetahui apa yang tidak ia ketahui, ia tidak bertumbuh.
b.      Fase 2: Saya Tahu Apa yang Tidak Saya Ketahui.
-          “Menyadari bahwa Anda tidak mengetahui fakta-faktanya adalah langkah besar menuju pengetahuan.” (Benjamin Disraeli)
c.       Fase 3: Saya Bertumbuh dan Mengetahui, dan Hal Ini Mulai Tampak.
-          Jika Anda menyadari kekurangan Anda, dan memulai disiplin pertumbuhan pribadi setiap harinya dalam kepemimpinan, terjadilah hal-hal yang menggembirakan.
-          Anda bisa menjadi pemimpin besar, namun itu takkan terjadi dalam satu hari. Mulailah membayar harganya sekarang.
d.      Fase 4: Saya Bersikap Alami karena Apa yang Saya Ketahui.
-          Dalam fase 3, Anda bisa lumayan efektif sebagai pemimpin, namun Anda harus memikirkan setiap langkah yang Anda ambil. Namun, jika Ana sudah sampai di fase 4, kemampuan Anda untuk memimpin menjadi hampir otomatis. Namun satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah mentaati Hukum Proses dan membayar harganya.
·         Untuk menjadi pemimpin besok, belajarlah hari ini.
Ø  “Rahasia sukses dalam hidup ini adalah siap ketika kesempatannya datang.” (Benjamin Disraeli)
Ø  Kemampuan memimpin Anda tidak statis sifatnya. Dari manapun Anda memulainya, Anda bisa menjadi lebih baik.
·         Berjuang ke atas.
Ø  Jika Anda ingin melihat di mana seseorang berkembang menjadi juara, lihatlah rutinitasnya sehari-hari.
Ø  “Anda bisa menyusun rencana bertanding atau rencana hidup. Tapi ketika Anda mulai beraksi, daya reflex Andalah yang bekerja. Di sanalah upaya-upaya Anda kelihatan. Jika Anda menipu diri di dalam keremangan fajar, Anda akan ketahuan di bawah sorotan lampu.” (Joe Frazier)
Ø  “Bukannya kritikus yang penting. Bukannya orang yang menunjukkan bagaimana orang kuat itu tersandung, atau di mana pelaku itu dapat melakukannya dengan lebih baik. Kreditnya adalah kepunyaan orang-orang yang benar-benar dalam arena: yang wajahnya memar, penuh keringat serta darah, yang berjuang dengan berani, yang berulang-ulang membuat kekeliruan, yang mengenal antusiasme serta berdedikasi dalam mengejar tujuan yang layak, yang dengan kemungkinan terbaik akhirnya meraih kemenangan, dan yang dengan kemungkinan terburuk jika gagal, setidaknya gagal setelah mencoba dengan berani, sehingga tempatnya takkan pernah bersamaan dengan jiwa-jiwa dingin serta pengecut yang tidak mengenal kemenangan maupun kekalahan.” (Theodore Roosevelt)
·         Orang yang berorientasi pada aksi.
·         Memupuk sukses perlahan-lahan.
·         Bukan sukses dalam semalam.
·         Jika Anda ingin menjadi seorang pemimpin, kabar baiknya adalah Anda bisa melakukannya. Semua orang memiliki potensinya, namun hal itu takkan tercapai dalam semalam. Dibutuhkan ketekunan. Dan Anda mutlak tak dapat mengabaikan Hukum Proses. Kepemimpinan tidaklah berkembang dalam satu hari. Melainkan seumur hidup.


 4.     HUKUM NAVIGASI
Siapapun Dapat Mengemudikan Kapalnya, Namun Hanya Pemimpinlah Yang Dapat Menentukan Arahnya

·         Para pengikut membutuhkan pemimpin untuk secara efektif melakukan navigasi. Jika menghadapi situasi-situasi hidup-mati, kebutuhan ini sungguh terasa. Namun, kalaupun ganjarannya tidak serius, kebutuhannya tetap besar. Sesungguhnya, hampir semua orang bisa mengendalikan kapalnya, namun hanya seorang pemimpinlah yang dapat menentukan arahnya. Itulah Hukum Navigasi.
·         Para navigator sudah mengantisipasikan perjalanan di depannya.
Ø  “Seorang pemimpin adalah seseorang yang melihat lebih banyak daripada yang dilihat orang laij, yang melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain, dan yang melihat sebelum yang lainnya melihat.” (Leroy Eims)
·         Para navigator beraksi menurut pengalaman masa lalu.
Ø  Setiap sukses atau kegagalan di masa lalu dapat menjadi sumber informai dan hikmat --- jika Anda mau menggunakannya. Sukses mengajar Anda tentang diri sendiri dan apa yang dapat Anda perbuat dengan karunia serta talenta Anda. Kegagalan menunjukkan asumsi-asumsi keliru apa yang telah Anda buat dan di mana metode-metode Anda memiliki kelemahan.
·         Para navigator mendengarkan apa yang dikatakan orang lain.
Ø  Seberapa banyaknya Anda belajar dari masa lalu, takkan pernah cukup untuk masa sekarang. Untuk itulah mengapa navigator ulung mengumpulkan informasi dari banyak sumber. Mereka bicara kepada orang-orang dalam organisasinya untuk mencari tahu apa yang terjadi di tingkat dasar. Dan mereka melewatkan waktu bersama para pemimpin di luar organisasinya yang dapat membimbing mereka.
·         Para navigator memeriksa kondisinya sebelum membuat komitmen.
Ø  Navigator yang baik memperhitungkan segalanya sebelum membuat komitmen bagi diri sendiri serta orang lainnya.
·         Para navigator memastikan kesimpulan mereka mencerminkan iman dan fakta.
Ø  Sungguh sulit untuk  menyeimbangkan optimism dengan realitas, naluri dengan perencanaan, iman dengan fakta. Namun itulah syaratnya agar efektif sebagai pemimpin yang memberikan navigasi.
·         Menentukan arah dengan strategi navigasi.
Ø  Predetermine a Course of Action  :  Tentukan dulu suatu rencana tindakan.
Ø  Lay Out Your Goals                      :  Paparkan sasaran-sasaran Anda
Ø  Adjust Your Priorities                   :  Sesuaikan prioritas-prioritas Anda
Ø  Notify Key Personne                     :  Beritahukan kepada personel kunci

Ø  Allow Time for Acceptance           :  Nantikan reaksinya hingga gagasan diterima
Ø  Head into Action                           :  Pimpinlah pelaksanaannya
Ø  Expect Problems                           :  Antisipasikan timbulnya masalah
Ø  Always Point to the Success          :  Ingatkanlah selalu sukses-sukses terdahulu
Ø  Daily Review Your Plan                :  Evaluasilah rencana Anda setiap harinya
·         Hambatan-hambatan utama terhadap perencanaan yang sukses adalah takut berubah, sikap cuek, ketidakpastian tentang masa depan, dan kurangnya imajinasi.
·         Rahasia Hukum Navigasi adalah persiapan.
·         Bukannya besar kecilnya proyek yang menentukan apakah proyek tersebut akan didukung atau tidak, berhasil atau tidak. Melainkan besar kecilnya sang pemimpin.

09 December 2012

Mau Dibawa Kemana Ekonomi Kita ???

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca harian Kompas yang saya lupa tanggal terbit persisnya. Saya baca opini seorang tokoh, Siswono Yudohusodo, Ketua Yayasan Universitas Pancasila (kalau tak salah) tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki ketahanan ekonomi luar biasa dari krisis moneter 2008, selain China dan satu negara lagi yg saya lupa negara apa. Ketika mayoritas negara-negara di dunia mengalami degradasi perekonomian dengan mengalami defisit angka pertumbuhan eknomi, Indonesia bisa bertahan dn bahkan justru melesat dengan mencetak angka pertumbuhan ekonomi di atas 6 % di tahun 2012. Sebuah prestasi membnggakan bukan?

Namun, ternyata di balik angka statistik, ada fakta menarik yang ironis. Ya, ironis. Pertumbuhan ekonomi adalah hal yang sangat berbeda dengan pemerataan ekonomi. Sekali lagi, pertumbuhan ekonomi SANGAT BERBEDA dengan pemerataan ekonomi. Sekalipun angka pertumbuhan ekonomi sedemikian baiknya, ternyata hal itu tak dibarengi dengan pemerataan ekonomi yang signifikan. Bagaimana kita bisa tahu? Kita bisa mengetahuinya dari instrumen statistik (juga), yakni Rasio GINI. Di tahun 2012, ketika angka pertumbuhan ekonomi kita menyentuh angka 6,2 %, ternyata rasio Gini yg muncul adalah 0,41 atau meningkat dari tahun sebelumnya yan sebesar 0,37. Apa arti rasio Gini 0,41? Artinya bahwa 1 % dari penduduk Indonesia menguasai 41 % ekonomi negara. Kalau tahun lalu angka rasio Gini "cuma" 0,37, maka kita bisa nilai bahwa ternyata ekonomi kita masih terpusat dan dikendalikan oleh para konglomerat yang entah apkah mereka baik atau tidak cukup baik. Jadi, kalau kita misalkan nominal ekonomi kita adalah PDB yang sebesar Rp 7000 Triliun dan penduduk Indonesia ada 240 juta, maka hampir Rp 3000 Triliun dikendalikan oleh sekitar "hanya" 2,4 juta penduduk. Lantas, bagaimana nasib 237 juta lainnya? ya cuma bisa berharap belas kasih dari yg 1 % itu. Ironis kan? Sangat! Ingin tahu siapa saja para "penentu" ekonomi Indonesia itu? Lihat saja Daftar orang terkayanya Indonesia versi Forbes, hehehehehe.

Mau jadi apa bangsa ini kalau hal ini terus dibiarkan?

Kondisi ekstrimnya adalah Indonesia bakal kehilangan PAPUA, KALIMANTAN dan wilayah-wilayah lain yang selama ini tak pernah merasakan tetesan harapan dan kasih sayang kesejahteraan dari JAWA.
Wassalam deh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ironis kan? Sangat!

Lantas, apa yg mesti kita lakukan sebagai BANGSA untuk mengatasi problematika ini?
Yang perlu kita pahami bersama, sejatinya landasan idiil (Pancasila) dan landasan konstitusional (UUD 1945) kita telah menjadi visi ekonomi yang fundamental. Kalau kita bedah Pancasila, sila 1 & 2 adalah dasar kita ber-Indonesia, sila 3 & 4 adalah cara kita ber-Indonesia, dan sila 5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) adalah tujuan kita ber-Indonesia. Jelas sekali bukan bahwa tujuan kita ber-Indonesia adalah menciptakan tataran masyarakat Indonesia yg berkeadilan sosial. Hal ini kemudian dipertegas di Preambule dan Batang Tubuh UUD 1945. Dalam Preambule dijelaskan bahwa untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah dengan melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta mewujudkan ketertiban dunia. Sementara dalam Batang Tubuh UUD 1945 mlah dipertegas bahwa seluruh sumber daya negeri ini dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemaslahatan bangsa Indonesia. 

Bagaimana realitanya?
Jauh panggang daripada api.
Sektor ekonomi kita dikuasai dan didominasi oleh asing, dan arah pengembangan kebijakan ekonomi kita adalah dengan membuka ruang investasi sebesar-bsarnya untuk asing dengan dalih tuntutn era globalisasi. Hal ini sudah menjadi petunjuk jelas bahwa akar masalah dari ketimpangan dan kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan di negeri ini adalah produk hukum dan kebijakan ekonomi yang belum pro rakyat. Mengapa bisa seperti itu? karena yg membuat kebijakan (baca: penguasa) sepertinya bukanlah orang-orang terbaik di bidangnya.

Jadi, untuk bisa mulai meminimalisir kesenjangan sosial ekonomi yg saat ini sudah relatif parah, kita butuh orang-orang yang bersih dan kapabel serta profesional di bidang ekonomi, supaya mampu memperjuangkan sistem ekonomi yang komprehensif dan efektif, menghasilkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang mengakomodasi kebutuhan rakyat serta merancang pengembangan kebijakan ekonomi yg berkelanjutan.

Sudah cukup kita disilaukan oleh angka-angka "penjilat" yang memoles makroekonomi kita..
sudah cukup wacana pertumbuhan ekonomi hanya seputar angka-angka manis...
angka statistik tak akan bisa membuat perut bangsa Indonesia yg berdiam di Pulau Sabang hingga ujung Merauke dan Pulai Miangas hingga Pulau Rote menjadi kekenyangan...

Mari peduli, mari berbagi. :)

*Terinspirasi setelah melihat wajah-wajah yang senantiasa berusaha menyembunyikan lelah, demi sesuap nasi yang penuh berkah di Pasar Mester Jatinegara

Didedikasikan untuk wong-wong alit Indonesia yang tersebar di pelosok Nusantara, mulai dari pasar, stasiun hingga terminal-terminal.