Pages

09 December 2012

Mau Dibawa Kemana Ekonomi Kita ???

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca harian Kompas yang saya lupa tanggal terbit persisnya. Saya baca opini seorang tokoh, Siswono Yudohusodo, Ketua Yayasan Universitas Pancasila (kalau tak salah) tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki ketahanan ekonomi luar biasa dari krisis moneter 2008, selain China dan satu negara lagi yg saya lupa negara apa. Ketika mayoritas negara-negara di dunia mengalami degradasi perekonomian dengan mengalami defisit angka pertumbuhan eknomi, Indonesia bisa bertahan dn bahkan justru melesat dengan mencetak angka pertumbuhan ekonomi di atas 6 % di tahun 2012. Sebuah prestasi membnggakan bukan?

Namun, ternyata di balik angka statistik, ada fakta menarik yang ironis. Ya, ironis. Pertumbuhan ekonomi adalah hal yang sangat berbeda dengan pemerataan ekonomi. Sekali lagi, pertumbuhan ekonomi SANGAT BERBEDA dengan pemerataan ekonomi. Sekalipun angka pertumbuhan ekonomi sedemikian baiknya, ternyata hal itu tak dibarengi dengan pemerataan ekonomi yang signifikan. Bagaimana kita bisa tahu? Kita bisa mengetahuinya dari instrumen statistik (juga), yakni Rasio GINI. Di tahun 2012, ketika angka pertumbuhan ekonomi kita menyentuh angka 6,2 %, ternyata rasio Gini yg muncul adalah 0,41 atau meningkat dari tahun sebelumnya yan sebesar 0,37. Apa arti rasio Gini 0,41? Artinya bahwa 1 % dari penduduk Indonesia menguasai 41 % ekonomi negara. Kalau tahun lalu angka rasio Gini "cuma" 0,37, maka kita bisa nilai bahwa ternyata ekonomi kita masih terpusat dan dikendalikan oleh para konglomerat yang entah apkah mereka baik atau tidak cukup baik. Jadi, kalau kita misalkan nominal ekonomi kita adalah PDB yang sebesar Rp 7000 Triliun dan penduduk Indonesia ada 240 juta, maka hampir Rp 3000 Triliun dikendalikan oleh sekitar "hanya" 2,4 juta penduduk. Lantas, bagaimana nasib 237 juta lainnya? ya cuma bisa berharap belas kasih dari yg 1 % itu. Ironis kan? Sangat! Ingin tahu siapa saja para "penentu" ekonomi Indonesia itu? Lihat saja Daftar orang terkayanya Indonesia versi Forbes, hehehehehe.

Mau jadi apa bangsa ini kalau hal ini terus dibiarkan?

Kondisi ekstrimnya adalah Indonesia bakal kehilangan PAPUA, KALIMANTAN dan wilayah-wilayah lain yang selama ini tak pernah merasakan tetesan harapan dan kasih sayang kesejahteraan dari JAWA.
Wassalam deh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ironis kan? Sangat!

Lantas, apa yg mesti kita lakukan sebagai BANGSA untuk mengatasi problematika ini?
Yang perlu kita pahami bersama, sejatinya landasan idiil (Pancasila) dan landasan konstitusional (UUD 1945) kita telah menjadi visi ekonomi yang fundamental. Kalau kita bedah Pancasila, sila 1 & 2 adalah dasar kita ber-Indonesia, sila 3 & 4 adalah cara kita ber-Indonesia, dan sila 5 (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia) adalah tujuan kita ber-Indonesia. Jelas sekali bukan bahwa tujuan kita ber-Indonesia adalah menciptakan tataran masyarakat Indonesia yg berkeadilan sosial. Hal ini kemudian dipertegas di Preambule dan Batang Tubuh UUD 1945. Dalam Preambule dijelaskan bahwa untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah dengan melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta mewujudkan ketertiban dunia. Sementara dalam Batang Tubuh UUD 1945 mlah dipertegas bahwa seluruh sumber daya negeri ini dikuasai oleh negara dan digunakan untuk kemaslahatan bangsa Indonesia. 

Bagaimana realitanya?
Jauh panggang daripada api.
Sektor ekonomi kita dikuasai dan didominasi oleh asing, dan arah pengembangan kebijakan ekonomi kita adalah dengan membuka ruang investasi sebesar-bsarnya untuk asing dengan dalih tuntutn era globalisasi. Hal ini sudah menjadi petunjuk jelas bahwa akar masalah dari ketimpangan dan kesenjangan ekonomi dan kesejahteraan di negeri ini adalah produk hukum dan kebijakan ekonomi yang belum pro rakyat. Mengapa bisa seperti itu? karena yg membuat kebijakan (baca: penguasa) sepertinya bukanlah orang-orang terbaik di bidangnya.

Jadi, untuk bisa mulai meminimalisir kesenjangan sosial ekonomi yg saat ini sudah relatif parah, kita butuh orang-orang yang bersih dan kapabel serta profesional di bidang ekonomi, supaya mampu memperjuangkan sistem ekonomi yang komprehensif dan efektif, menghasilkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang mengakomodasi kebutuhan rakyat serta merancang pengembangan kebijakan ekonomi yg berkelanjutan.

Sudah cukup kita disilaukan oleh angka-angka "penjilat" yang memoles makroekonomi kita..
sudah cukup wacana pertumbuhan ekonomi hanya seputar angka-angka manis...
angka statistik tak akan bisa membuat perut bangsa Indonesia yg berdiam di Pulau Sabang hingga ujung Merauke dan Pulai Miangas hingga Pulau Rote menjadi kekenyangan...

Mari peduli, mari berbagi. :)

*Terinspirasi setelah melihat wajah-wajah yang senantiasa berusaha menyembunyikan lelah, demi sesuap nasi yang penuh berkah di Pasar Mester Jatinegara

Didedikasikan untuk wong-wong alit Indonesia yang tersebar di pelosok Nusantara, mulai dari pasar, stasiun hingga terminal-terminal.



1 comment:

  1. benar bray
    Ekonomi sekarang hanya terpusat di kota kota besar seperti Jawa.

    Sementara kalimantan dan sumatra dkk jauh tertinggal, padahal wilayah sana menyimpan sejudah ladang penghasilan negara

    wes manteblah buat 2044
    sek kerjo sek
    makalah TOEFL

    ReplyDelete