Pages

22 June 2011

Pemuda, Masihkah Kau Berharga ?

Pemuda, Masihkah Kau Berharga ?

Pemuda menjadi sebuah bagian tak terpisahkan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Hitam putihnya perjalanan bangsa ini banyak diwarnai jatuh bangunnya golongan pemuda dalam membangun pondasi bangsa dan Negara Indonesia. Karya-karya akbar mereka menggoreskan banyak tinta emas dalam lembar perjalanan kehidupan bangsa Indonesia. Derap langkah mereka telah terpahat abadi dalam prasasti risalah bangsa oleh masa.

Era Pergerakan Nasional yang bermula tahun 1908 adalah bukti pertama yang digagas oleh sekumpulan pemuda dalam wadah organisasi Budi Utomo yang mampu menggeser mindset perjuangan kedaerahan menjadi pergerakan nasional. Dua puluh tahun kemudian, pemuda Indonesia kembali menghasilkan karya monumental inisiator kesatuan, yakni Sumpah Pemuda di tahun 1928, yang menelurkan pernyataan kesatuan berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu : INDONESIA. Dan tentu saja, karya besar lain yang tetap terasa segar dalam memori rakyat Indonesia : Era Reformasi, yang lahirnya ditandai oleh keberhasilan golongan pemuda bersama elemen lain dalam menumbangkan rezim Orde Baru yang telah menancapkan hegemoninya di negeri ini selama lebih dari 30 tahun.

Berbagai macam pencapaian itu tentu bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan perjuangan yang panjang, pengorbanan yang besar serta niat, tekad dan semangat yang tak pernah surut dan lapuk oleh zaman. Banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang tersarikan dari kisah-kisah perjuangan mereka. Nilai-nilai unggul yang menjadi cirri khas karakter dan mentalitas dari para pemuda Indonesia di masa itu.

Kini, pemuda Indonesia sedang mengalami krisis mentalitas. Karakter heroik dan patriotik yang dulu diwariskan oleh para pejuang yang telah gugur mendahului semakin lama semakin terkikis habis oleh kehadiran produk-produk kemajuan multimedia (baca:sinetron-sinetron, infotainment) yang kehadirannya justru kontraproduktif dalam pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Nilai-nilai nasionalisme dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara Indonesia semakin luntur dan semakin terlupakan. Semangat kebersamaan, gotong royong dan musyawarah mufakat yang telah menjadi ciri khas bangsa Indonesia dan telah berurat dan mengakar dalam kehidupan sehari-harinya semakin ditinggalkan. Hal itu seiring dengan pergeseran gaya hidup bermasyarakat yang semakin apatis dan individualis sebagai akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang tidak diimbangi dengan kesiapan pembangunan kemanusiaan yang komprehensif.

Lantas, bagaimanakah solusi untuk menaikkan kembali derajat dan peranan pemuda Indonesia ke level yang seharusnya ? Karena akar masalahnya sudah jelas, yakni mentalitas, maka jawabannya pun sederhana : Pendidikan KARAKTER! Ya, Karakterlah yang seharusnya menjadi titik sentuh utama yang harus dibenahi. Maka, sudah sepantasnyalah tema yang diusung dalam Hari Pendidikan Nasional 2011 adalah “Pendidikan Karakter Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa”, bahkan seharusnya pemerintah mencanangkan tema ini sejak awal seiring berkembangnya sistem pendidikan nasional. Sebab, pendidikan adalah salah satu jalan spesifik mewujudkan satu dari empat tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bukan sekedar mencerdaskan otak, melainkan juga mencerdaskan hati. Bukan hanya menajamkan logika, melainkan juga mengasah nurani dan rasa. Seperti itulah hakikat pendidikan seharusnya, mencerdaskan manusia seutuhnya.

Pendidikan hendaknya mampu menanamkan kembali karakter kerakyatan dan karakter kebangsaan kepada generasi muda Indonesia saat ini. Dua karakter inilah yang selama ini terlupakan dan tercampakkan sebagai dampak dari pesatnya era globalisasi. Karakter kerakyatan akan menjadikan pemuda Indonesia memiliki kepekaan, kepedulian dan tanggung jawab sosial bermasyarakat. Karakter kerakyatan ini mutlak diperlukan untuk mencegah semakin meluasnya gaya hidup apatis, individualis dan hedonis yang tengah menjangkiti generasi muda saat ini, serta menumbuhkembangkan kembali kesadaran sosial pemuda untuk menanggapi permasalahan-permasalahan yang tengah terjadi dalam masyarakat. Dari situ, keberadaan pemuda akan kembali dirasakan oleh masyarakat karena karakter kerakyatan yang telah dimiliki akan menjadikan pemuda menjadi lebih dekat dengan masyarakat dan mampu menghadirkan solusi riil bagi permasalahan sosial bermasyarakat.

Adapun karakter kebangsaan dibutuhkan pemuda agar pemuda Indonesia mampu berpartisipasi aktif dalam tata kehidupan bernegara demi menjaga kesatuan negeri ini. Apalagi dengan semakin maraknya perang ideologi yang destruktif yang justru menjadikan pemuda sebagai sasarannya saat ini. Tentu ini menjadi ancaman yang sangat serius bagi masa depan negeri ini. Untuk itu, karakter kebangsaan menjadi sebuah nilai yang wajib dimiliki oleh gemerasi muda Indonesia. Nilai-nilai nasionalisme serta pemahaman komprehensif terhadap ideologi bangsa dan implementasinya akan menjadi perisai bagi perikehidupan generasi muda sekarang. Dengan karakter kebangsaan itu, generasi muda Indonesia akan menjadi generasi penerus yang handal untuk menjadikan Indonesia jauh lebih baik dan bermartabat.

Jaya Pemuda Indonesia, Jayalah Bangsa Indonesia !!!

Surabaya, 10 Mei 2011

Pukul. 21.05 WIB

Muhlas Hanif Wigananda

NRP 3108 100 125

No comments:

Post a Comment