Pages

21 December 2012

SENANDUNG BERNADA INDONESIA


Kota batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo
Gadis cantik jadi pujaan, jangan bejat jangan bodoh
Pertikaian di tanah Papua, bukan Palembang bukan Jakarta
Ekonomi maju bersama, jangan timpang tidak merata
Buang sampah di Bantar Gebang, jangan buangnya di desa Bojong
Banyak harta jangan lupa nyumbang, kalau kaya jangan jadi sombong
Banyak pejuang di tanah Rencong, melawan ketidakadilan
Laki-laki jangan kayak bencong, beraninya cuma ribut tawuran

Ada yang ingat atau tahu rangkaian kalimat di atas? Untaian kata-kata di atas merupakan lirik dari lagu milik salah satu band papan atas Indonesia. Ya, itu merupakan lirik dari lagu Slank yang berjudul “SBY (Sosial Betawi Yoi) dari album ”Slankkissme” yang rilis tahun 2005. Entah mengapa saya begitu penasaran dengan lagu ini. Sejak lama saya sudah berusaha untuk punya file lagu ini dan baru akhir Desember 2012 ini saya baru sempat mendapatkannya. Bagi saya, lagu menjadi hiburan tersendiri di tengah fanatisme akut yang tengah menjangkiti bangsa ini terhadap budaya-budaya K-Pop yang selalu bikin pemuda-pemudi kita terlarut dalam euphoria-histeria. Belum lagi, naluri alamiah bangsa ini yang sangat ‘gaul’ dan selalu mengikuti tren terkini alias mengadopsi bahkan menjiplak budaya-budaya semacam itu. Akibatnya sudah kita bersama rasakan sekarang: boyband/girlband minim kualitas yang menjamur yang saya menyebutnya sebagai ‘pelacur musik’ (karena cuma menjual raga, bukan suara), wajah-wajah dan macam rupa yang telah di’permak’, dan penampilan-penampilan yang begitu terlihat sangat dipaksakan di layar kaca. Industri musik Indonesia benar-benar mengalami degradasi kualitas yang sangat kasat mata, dan begitu nyata mengarah kepada komersialisasi membabi buta.

Realita yang demikian tentu disadari oleh  banyak orang, termasuk kita, yang pada akhirnya mengantarkan kita kepada kerinduan yang mendalam akan sebuah karya seni yang berkualitas, musikalitas yang menembus batas, hingga lirik yang esensial dan acapkali membuat telinga dan hati ‘panas’. Kerinduan itulah yang mungkin membuat saya begitu merasa puas bisa menikmati lagu Slank di atas. Lagu tersebut ibarat sang tirta yang menghapus dahaga akan sebuah karya dengan musikalitas yang mumpuni, dan lebih dari itu, lagu tersebut memberikan pembelajaran yang tersirat melalui kata-kata yang teruntai dalam lirik yang dapat mengembangkan sudut pandang kita dalam memandang bangsa. Bagaimana bisa? Kalau kita telaah tiap kalimat dengan seksama, maka akan kita sadari bahwa tiap kalimat dalam lirik lagu tersebut merefleksikan problematika Indonesia di berbagai bidang fundamental kehidupan.




Budaya --- Jati Diri Bangsa

“Kota batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo”

Masih membekas dalam memori bangsa ini akan konflik bilateral antara Indonesia dengan Malaysia perihal kebudayaan. Sudah beberapa kali rakyat Indonesia dibuat naik pitam oleh Malaysia yang secara sepihak berusaha mengklaim beberapa kebudayaan, yang kita yakini merupakan buah karya otentik nenek moyang kita, sebagai milik mereka. Beberapa budaya yang diklaim Malaysia yang pernah tercatat antara lain kesenian Reog, busana khas batik, alat musik angklung, lagu Rasa Sayange dan beberapa budaya lainnya. Hal ini kemudian memunculkan resistensi akibat kemarahan dari masyarakat kita. Dari sudut pandang kontemporer, hal ini bisa dijadikan sebuah parameter yang menunjukkan bahwa ternyata bangsa kita masih punya harga diri yang hendak dijunjung tinggi (baca: nasionalisme). Sayangnya, nasionalisme yang diekspresikan itu tidaklah lahir dari proses perenungan dan upaya proaktif yang secara simultan berusaha ditumbuhkan oleh anak bangsa. Ya, nasionalisme yang ada adalah nasionalisme reaktif, cenderung sarkastis. Nasionalisme yang ditunjukkan dengan cara-cara yang tak elegan dan belum sepenuhnya menunjukkan keberadaban kita.

Kalau kita coba apa yang disiratkan dalam penggalan lirik lagu tersebut tentang keterkaitannya terhadap realita problematika kebudayaan, maka kita dapat menemukan sebuah ‘lubang besar’ yang menjadi akar permasalahan kebudayaan kita. Bukan, bukan tentang kita tahu atau tidak akan budaya bangsa. Kita semua sudah tahu, atau paling tidak sudah mengenal, keanekaragaman budaya kita yang telah kita temui di buku-buku pelajaran sekolah dasar. Tapi yang menjadi pertanyaan mendasar adalah seberapa jauh kita mengenal dan seberapa riil upaya kita melestarikan khazanah budaya kita. Sebagaimana pesan yang dikandung dalam lirik ini yang seolah menyentil kita bahwa kita semua tahu kalau batik adalah budaya Indonesia, namun ternyata kebanyakan kita salah menjawab ketika harus menyebut asal dan sejarah budaya tersebut. Terlihat sepele memang, tapi kalau kita ingat keanekaragaman budaya Indonesia yang tersusun dari 34 provinsi dan lebih dari 300 suku bangsa, fenomena ini bakal menjadi ‘bom waktu’ yang siap meledak kapan pun, dan jika telah meledak, maka jangan menyesal apabila secara perlahan satu demi satu budaya kita akan lenyap dimangsa perkembangan zaman.


Politik --- Pilar Bangsa

“Gadis cantik jadi pujaan, jangan bejat jangan bodoh”

Penggalan lirik tersebut sudah cukup menggambarkan carut marut yang terjadi sektor politik dan kepemimpinan nasional. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang merajalela, sistem kepartaian yang pragmatis-oportunis, tata kelola pemerintahan yang masih sangat jauh dari criteria memuaskan, hingga minimnya figur yang mampu memberikan keteladanan karakter –keberanian, ketegasan, kedekatan- menjadi bukti yang menegaskan bahwa sektor politik dan kepemimpinan nasional menjadi salah satu sektor yang harus memperoleh prioritas pembenahan sesegera mungkin. Urgensitas ini menjadi sebuah tuntutan karena realitanya sistem politik kita sudah sedemikian parahnya. Berbagai macam kasus muncul silih berganti dan terungkap secara tumpang tindih, bukan karena mampu dituntaskan melainkan karena terlalu banyaknya sehingga belum sempat diusut hingga selesai ke akar-akarnya sudah muncul kasus yang lain. Belum selesai skandal BLBI terkupas tuntas, sudah muncul lagi skandal Centurygate. Belum tuntas lagi skandal tersebut, sekarang sudah heboh kasus Hambalang, yang konon untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan negara ini, mampu menyeret seorang menteri aktif sebagai tersangkanya. Sebuah stagnansi, bahkan kalau boleh disebut sebagai sebuah degradasi (lagi), yang menjadi sebuah ironisme bagi negara yang telah berusia 67 tahun ini.

Berbagai problematika dalam sektor politik kita merupakan buah dari berlangsungnya sistem politik yang pragmatis-oportunis. Pragmatisme-oportunistik yang menyelubungi dunia perpolitikan kita membuat orientasi politik yang mengarah pada kekuasaan materialistik. Sistem kepartaian yang merupakan salah satu instrument utama dalam dunia politik menjadi sebuah ‘lingkaran setan’ yang gagal melahirkan figur-figur pemimpin yang memiliki karakteristik negarawan-profesional. Partai-partai menjadi eksklusif-elitis yang menjadikan fungsi aspirasi-representatifnya menjadi tidak efektif. Partai-partai ini secara perlahan berubah menjadi wadah bagi mereka yang haus kekuasaan, mengejar gelimangan harta dan butiran berlian tahta. ‘Lingkaran setan’ bernama partai ini akan menindas orang-orang baik yang ada di dalamnya hingga yang tersisa hanyalah orang-orang yang sudah buta hatinya oleh dunia – mereka menjadi bejat dan bodoh.

Situasi seperti yang menjadikan para pemuda-pemudi bangsa menjadi antipati terhadap dunia perpolitikan dan kepartaian dan enggan membangun bangsa melalui jalan itu. Padahal sebagai aspek pilar negara, kontribusi dan perjuangan melalui jalur politik adalah sebuah keniscayaan. Seandainya tak ada pemuda-pemuda potensial yang mau merelakan dirinya untuk berjuang sebagai ‘mutiara dalam kubangan lumpur’, maka jangan salahkan apabila kelak Indonesia benar-benar mengalami krisis kepemimpinan nasional yang semakin akut dan menjadikan negeri ini semakin terpuruk. Karena itu, pendidikan politik yang komprehensif menjadi sebuah kebutuhan yang nyata sebagai bekal para anak bangsa yang akan memegang tongkat kuasa Indonesia.


Otonomi --- Keberagaman Bangsa
 
“Pertikaian di tanah Papua, bukan Palembang bukan Jakarta”

Sejarah telah mencatat bahwa praktik sentralisasi bukanlah sistem pemerintahan yang tepat dalam upaya mengakomodasi negara dengan luas daratan 1.922.570 km² dan luas perairannya 3.257.483 km² ini yang membentang dari Sabang hingga Merauke serta dari Miangas hingga ke Rote ini. Kondisi geografis ini, yang merupakan anugerah yang menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, membuat konsep desentralisasi menjadi alternatif terbaik dalam rangka membangun Nusantara. Konsep desentralisasi ini kemudian diartikulasikan dengan istilah otonomi daerah yang membuat daerah memiliki peran yang lebih dominan daripada pusat dalam mengembangkan daerahnya. Jika dalam konsep sentralisasi, rasio pusat dan daerah adalah 70:30, maka konsep desentralisasi adalah kebalikannya dengan rasio pusat dan daerah adalah 30:70. Dalam tataran konseptual, otonomi daerah menjadi sebuah kebijakan yang menjanjikan untuk bisa mewujudkan kondisi ideal di setiap daerah.

Namun, dalam tataran implementasi, ternyata banyak sekali ditemukan berbagai kelemahan dalam penerapan otonomi daerah. Belum komprehensifnya proteksi regulasi dari pusat, kurangnya kapabilitas pemerintah daerah sebagai pelaku otonomi daerah, maupun rendahnya sosialisasi dan penarikan aspirasi masyarakat menghadirkan berbagai macam konflik social di daerah. Intensitas dan ruang lingkup konflik sosial tersebut akan berbanding lurus dengan kondisi sosial demografi maupun geografis daerah tersebut. Maka jangan heran apabila daerah seperti Papua menjadi daerah dengan angka konflik sosial yang tinggi mengingat faktor sosial, kependudukan dan letak geografisnya yang sangat berbeda dengan kondisi yang ada di Jawa. Rendahnya kepedulian dan kurangnya perhatian dari pemerintah pusat terhadap daerah-daerah yang jauh dari Jawa menjadi pelengkap derita. Pemekaran wilayah, baik dalam skala kota dan kabupaten maupun provinsi, bukan menjadi jawaban yang efektif. Karena itu, perlu ada perhatian yang lebih serius dan tak pilih kasih dari Jawa (baca: pemerintah pusat) untuk lebih memperhatikan situasi di Papua maupun daerah yang memerlukan perhatian ekstra lainnya.


Ekonomi --- Kekuatan Bangsa

“Ekonomi maju bersama, jangan timpang tidak merata

Penggalan lirik tersebut merupakan warning terhadap situasi perekonomian Indonesia saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah satu dari sedikit negara dengan ketahanan ekonomi yang luar biasa selain China dan India. Ketika mayoritas negara di dunia begitu kewalahan menghadapi krisis keuangan tahun 2008, Indonesia mampu bertahan dan tetap mampu menjaga surplus pertumbuhan ekonominya. Bahkan, dalam laporan Bank Indonesia disebutkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2011 adalah 6,5% yang merupakan angka tertinggi dalam dekade terakhir. Konsumsi domestik akibat pertumbuhan kelas menengah yang signifikan di negeri ini merupakan daya dukung utama tercapainya angka pertumbuhan ekonomi tersebut. Prestasi tersebut membangkitkan optimisme para pelaku dunia ekonomi bahwa pada tahun 2013 nanti angka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menembus angka 6,7%. Sebuah kondisi makroekonomi yang prospektif dan menjadi kekuatan Indonesia di kancah ekonomi global yang kian kapital.

Namun, kondisi makroekonomi yang cerah tersebut ternyata belum diimbangi oleh perkembangan mikroekonomi dan pemerataan ekonomi yang signifikan. Belum semua rakyat Indonesia, terutama yang jauh dari peradaban Jawa, bisa merasakan manisnya pertumbuhan ekonomi negara. Daerah-daerah perbatasan di Kalimantan, Nusa Tenggara hingga Papua adalah contoh dari mereka yang belum bisa mengenyam manisnya pembangunan. Bagaimana kita bisa tahu? Kita bisa mengetahuinya dari instrumen statistik yakni Rasio Gini. Di tahun 2012, ketika angka pertumbuhan ekonomi kita menyentuh angka 6,2 %, ternyata rasio Gini yang muncul adalah 0,41 atau meningkat dari tahun sebelumnya yang sebesar 0,37. Apa arti rasio Gini 0,41? Artinya bahwa 1 % dari penduduk Indonesia menguasai 41 % ekonomi negara. Kalau tahun lalu angka rasio Gini "cuma" 0,37, maka kita bisa nilai bahwa ternyata ekonomi kita masih terpusat dan dikendalikan oleh para konglomerat yang entah apkah mereka baik atau tidak cukup baik. Jadi, kalau kita misalkan nominal ekonomi kita adalah PDB yang sebesar Rp 7000 Triliun dan penduduk Indonesia ada 240 juta, maka hampir Rp 3000 Triliun dikendalikan oleh sekitar "hanya" 2,4 juta penduduk. Lantas, bagaimana nasib 237 juta lainnya? ya cuma bisa berharap belas kasih dari yg 1 % itu. Ironis kan? Sangat! Ingin tahu siapa saja para "penentu" ekonomi Indonesia itu? Lihat saja daftar orang terkayanya Indonesia versi Forbes. Jadi, untuk bisa mulai meminimalisir kesenjangan sosial ekonomi yang saat ini sudah relatif parah, kita butuh orang-orang yang bersih dan kapabel serta profesional di bidang ekonomi, supaya mampu memperjuangkan sistem ekonomi yang komprehensif dan efektif, menghasilkan kebijakan-kebijakan ekonomi yang mengakomodasi kebutuhan rakyat serta merancang pengembangan kebijakan ekonomi yg berkelanjutan. Jika tidak, maka lagu “Dari Sabang Sampai Merauke” hanya akan menjadi kenangan usang.





Lingkungan --- Kekayaan Bangsa

Buang sampah di Bantar Gebang, jangan buangnya di desa Bojong”

Indonesia sejatinya memiliki peran yang sangat strategis dalam khazanah ekosistem dunia. Sekalipun luas Indonesia hanya sekita 1,3% dari luas permukaan bumi, namun Indonesia adalah negara dengan luas perairan terbesar di dunia dan merupakan salah satu negara dengan luas hutan terbesar di dunia. Kekayaan alam yang dimiliki ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Sekitar 10% spesies berbunga, 12% spesies mamalia, 16% spesies reptile dan amphibi, 17% spesies burung, serta 25% spesies ikan dunia yang dikenal manusia terdistribusikan di seluruh Indonesia. Selain itu, Indonesia memiliki panjang wilayah pesisir sebesar 81000 km atau sebesar 14 % dari panjang pesisir dunia di mana hanya Kanada yang memiliki panjang wilayah pesisir lebih besar.

Bagaimana dengan hutan tropis Indonesia ? Indonesia diperkirakan memiliki kawasan hutan tropis terbesar di Asia-Pasifik yaitu sekitar 1, 15 juta kilometer persegi dengan keanekaragaman jenis pohon yang paling beragam di dunia. Hutan tropis Indonesia kaya akan spesies palm (447 spesies, dimana 225 diantaranya tidak terdapat di bagian dunia lainnya), lebih dari 400 spesies dipterocarp yaitu jenis kayu yang bernilai sangat tinggi secara ekonomis di Asia Tenggara, dan tersebarnya sekitar 25,000 spesies tumbuhan berbunga. Karena begitu kayanya keanekaragaman hayati Indonesia, sehingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara di dunia yang mempunyai jumlah keanekaragaman hayati terbesar. Untuk pulau Jawa saja, jumlah spesies setiap 10.000 km2 antara 2000 – 3000 spesies. Sedangkan Kalimantan dan Papua mencapai lebih dari 5000 spesies. Masih banyak keanekaragaman hayati Indonesia lainnya yang berpotensi dan berprospek secara ekonomis maupun keilmuan (Muchtaromah, 2011).

Kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia tersebut membuat Indonesia menjadi negara --- bersama beberapa negara tropis lainnya --- penyangga keseimbangan alam di dunia. Fluktuasi kondisi alam dan lingkungan yang terjadi di Indonesia akan memberikan pengaruh yang signifikan pada dunia. Indonesia, dengan bentangan hutan yang sedemikian luasnya, dikenal sebagai paru-paru dunia. Terlepas dari konflik yang melibatkan negara-negara maju dengan negara-negara berkembang terkait keberlanjutan Protokol Kyoto yang terjadi di KTT Iklim PBB di Doha, Qatar baru-baru ini, potensi yang dimiliki Indonesia seyogianya membuat Indonesia mawas diri dan berusaha senantiasa proaktif dalam upaya pelestarian lingkungan di dunia, terutama dalam upaya menekan laju kerusakan hutan. Ya, tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia memiliki sejarah kelam dalam hal angka laju kerusakan hutan. Data dari Kementerian Kehutanan menunjukkan bahwa luas hutan Indonesia mengalami penyusutan dari masa ke masa, yakni 162 juta hektar pada tahun 1950, kemudian 118,7 juta hektar pada tahun 1992, 110 juta hektar pada tahun 2003, dan 93,92 juta hektar pada tahun 2005. Tercatat bahwa laju kerusakan hutan pada tahun 1998 adalah sebesar 2 juta hektar per tahun dan meningkat menjadi 3,5 juta hektar per tahun pada tahun 1999. Dan saat ini, laju kerusakan hutan telah menurun drastis hingga hanya sebesar 300 ribu hektar per tahun. Sekalipun demikian, akibat buruk yang diwariskan telah menjadi sebuah ‘karma’ berupa bencana yang rutin melanda, seperti banjir bandang, kabut asap, pemanasan global dan punahnya flora dan fauna endemis.

Melihat urgensitasnya dan masa depan generasi yang akan datang, sudah seharusnya kita bertindak untuk mencegah dan merehabilitasi lingkungan – khususnya hutan di negeri ini. Kegiatan-kegiatan pertambangan, perkebunan, pembalakan dan industry perkayuan, maupun perambahan hutan harus dikontrol dengan sangat ketat supaya tidak merusak lingkungan. Kebijakan-kebijakan reboisasi dan penanaman kembali pohon di daerah-daerah dengan vegetasi kritis harus senantiasa digiatkan. Penumbuhan kesadaran masyarakat melalui program-program sosialisasi maupun persuasi harus terus digalakkan secara massif. Yang pasti, negara harus meningkatkan perannya dalam mengawasi pelaku-pelaku industry agar senantiasa menjadikan lingkungan sebagai factor yang harus senantiasa diprioritaskan. Semoga generasi kita berikutnya masih bisa benar-benar merasakan kekayaan alam ibu pertiwi yang mengutip sebuah lagu yang dipopulerkan Koes Plus, “bukan lautan tapi kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, tiada badai tiada ombak kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu, orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”


Kemanusiaan --- Moralitas Bangsa

“Banyak harta jangan lupa nyumbang, kalau kaya jangan jadi sombong.”

Jikalau ada bertanya tentang nilai apa yang membedakan manusia Indonesia masa kini dengan manusia Indonesia dari generasi sebelumnya, maka saya akan menjawab nilai yang hilang saat ini adalah nilai respek. Bukan tanpa alasan saya memberikan jawaban ini. Bila kita lihat realita dinamika kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang terjadi di negara ini, maka kita akan menyaksikan bagaimana krisis sikap saling menghormati dan mengahrgai yang sangat kentara. Dalam bidang keyakinan, kerapkali terjadi kasus klaim-mengklaim yang dilakukan oleh sekelompok golongan yang mengaku paling benar, dan dengan dalih itu kemudian memaksakan kehendaknya dengan menggunakan kekerasan. Fanatisme-fanatisme aliran keyakinan yang meledak-ledak dan menimbulkan keresahan dalam masyarakat menjadi pemandangan yang biasa. Dalam bidang ekonomi, budaya hedonistis dan materialistis menjadi tontonan sehari-hari yang mudah ditemui di televisi. Gaya hidup mewah dan glamor yang menjadi trademark dari para selebriti menyebar luas di tengah keprihatinan kemiskinan yang jumlahnya tak bisa dipandang sebelah mata di negeri ini. Dalam bidang sosial budaya, problematika yang menunjukkan rendahnya sikap toleransi terhadap perbedaan juga tak sedikit kuantitasnya. Bentrokan antar suku ataupun antar kelompok masyarakat menjadi santapan berita sehari-hari. Keangkuhan, kesombongan, rasa tinggi hati, arogansi, dan sikap semaunya sendiri mudah ditemui saat ini. Ya, krisis sikap respek tengah menjangkiti bangsa ini.

Krisis respek itu pula yang menjadikan masyarakat kita menjadi mudah terjebak dalam konflik-konflik horizontal. Sudah menjadi tradisi tahunan bahwa menjelang bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri pasti akan muncul pertentangan pendapat yang tak jarang berujung pada perseteruan panas. Masing-masing pihak akan merasa bahwa perhitungan dan keputusannya yang paling benar, dan ironisnya kadang menimbulkan pertentangan hingga di tataran massa akar rumput. Selain itu, krisis respek juga akan kita temui manakala menjelang momen hari raya dalam kepercayaan agama minoritas. Setiap menjelang momen tersebut, aka nada perdebatan pro kontra terkait boleh tidaknya memberikan ucapan selamat ataupun menghadiri undangan seremoni peringatan hari raya keagamaan. Toleransi dan kebijaksanaan masyarakat senantiasa diuji bilamana menemui perbedaan-perbedaan, baik yang sifatnya kecil maupun besar.

Kekurangtenangan masyarakat Indonesia dalam memandang perbedaan yang ada merupakan buah dari kurang komprehensifnya mereka dalam bersudut pandang ke’bhinneka tunggal ika’an. Kita mestinya senantiasa ingat bahwa keberagamaan Indonesia adalah sebuah anugerah yang menjadi kekuatan kita. Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang suku bangsa, budaya, adat, bahasa, ekonomi, pendidikan dan sebagainya yang semestinya membuat kita semakin bijak dan terus belajar memandang perbedaan secara positif-konstruktif. Yang dekat dengan peradaban modern, hendaknya menghargai khasanah budaya yang berasal dari akar historis leluhur. Yang berada dalam sisi mayoritas, hendaknya memperhatikan hak-hak dari yang minoritas. Yang memiliki kehidupan dan penghidupan yang mapan, hendaklah mau terus belajar untuk rendah hati dan berbagi. Sudah saatnya manusia Indonesia memiliki kembali sudut pandang yang holistic, bukan parsial, sebagaimana yang dimiliki manusia Indonesia dari generasi sebelum kita. Bukti dari tingginya sikap respek yang dimiliki pendahulu kita tersirat dalam sejarah penyusunan Pancasila sebagai ideology bangsa maupun substansi Pancasila itu sendiri yang memiliki kandungan nilai yang sedemikan luhur. Mengutip tulisan Pandji Pragiwaksono dalam bukunya ‘Nasional.Is.Me’, sudah saatnya kita kembali dalam mindset kebangsaan yang seharusnya, yakni “yang benar bukanlah dijadikan satu, melainkan dijadikan bersatu.”


 Hukum --- Martabat Bangsa

“Banyak pejuang di tanah Rencong, melawan ketidakadilan.”

Penegakan hukum yang berkeadilan masih menjadi hal yang langka di negeri ini. Masih lekat dalam ingatan kita ketika media-media santer memberitakan kasus nenek yng mencuri buah kakao dan anak yang mencuri sandal jepit di mana keduanya mendapat vonis yang dirasa oleh khalayak tak mengedepankan keadilan dan perikemanusiaan. Justifikasi itu lahir akibat adanya kesan tebang pilih dalam penegakan hukum di Indonesia. Bagaimana mungkin mencegah munculnya kesan tersebut ketika para penegak hokum sangat tegas dan tak pandang bulu untuk menindak para pencuri kelas teri, yang sebagian besar karena factor kesulitan ekonomi, sementara para elit politik dan pejabat yang tersangkut kasus korupsi dibiarkan begitu saja tanpa adanya kejelasan hukum yang pasti dan menjerat. Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa penegakan hukum di Indonesia ini masih belum diperjuangkan dengan sepenuh hati. Hukum di negeri ini ibarat pisau yang tajam di bawah namun tumpul di atas, menikam kelas bawah dalam masyarat, namun tak bisa menyayat para pejabat. Sebuah realita paradoksial bagi sebuah negara yang memperjuangkan implementasi demokrasi dalam sendi-sendi kehidupannya.

Lemahnya penegakan hukum di Indonesia ini ada kaitannya dengan buruknya kinerja instansi pemerintahan yang berkaitan dengan bidang hukum. Salah satu indicator buruknya kinerja instansi-instansi ini dapat dilihat dari sebuah fakta yang dikeluarkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dari analisis yang dilakukan BPK terhadap 83 lembaga negara/kementerian selama 2008-2010, Kejaksaan Agung menjadi lembaga negara yang paling korup dengan potensi kerugian negara yang ditimbulkan sebesar Rp. 5,4 Triliun. Sementara menurut hasil survey yang dilakukan oleh Transparancy International Indonesia (TII), lembaga peradilan serta kepolisian menjadi dua dari empat lembaga terkorup di mana dua lembaga lainnya adalah DPR dan partai politik. Tentu ini menjadi prestasi yang tak menggembirakan mengingat lembaga-lembaga negara tersebut memiliki peran strategis dan menjadi ujung tombak dalam upaya penegakan hukum di Indonesia. Taji mereka harus kembali diperkuat, taring mereka harus kembali diperuncing dan cakar mereka harus kembali dipertajam.

Namun, solusi yang fundamental adalah memperkuat sektor kepemimpinan nasional. Buruknya kinerja lembaga negara yang terkait, berlarut-larutnya kasus hukum berskala besar, masih banyaknya pejabat korup yang melenggang bebas maupun konflik yang acapkali melanda lembaga negara dalam penanganan kasus hukum merupakan bukti bahwa sektor kepemimpinan nasional masih lemah. Figur kepemimpinan yang berani dan tegas merupakan predecessor penguatan peran institusi terkait dalam upaya penegakan hukum di Indonesia. Pemimpin yang kuat dapat memperjuangkan reformasi birokrasi di tataran lembaga negara, pemimpin yang kuat dapat menyegerakan upaya penyelesaian konflik maupun penuntasan kasus hukum yang berlarut-larut, dan lebih dari itu, kepemimpinan yang kuat akan menghadirkan optimisme dan semangat baru yang tak surut bagi para aparat penegak hukum dan masyarakat yang tengah dijangkiti bibit-bibit pesimisme akan penegakan supremasi hukum di negeri yang mengaku sebagai negara demokrasi ini.


Pendidikan --- Pondasi Bangsa

“Laki-laki jangan kayak bencong, beraninya cuma ribut tawuran.”

Potret buram kepemudaan Indonesia dapat dilihat dari semakin sering terjadinya vandalisme yang dilakukan oleh pemuda. Oknum-oknum pemuda tersebut kebanyakan berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Tanpa menutup mata atas prestasi-prestasi yang dipersembahkan sebagian golongan pemuda yang lain, aksi-aksi kekerasan, bentrokan, maupun tawuran semakin mudah tersulut bahkan oleh permasalahan sepele, semacam perebutan wanita, tersinggung oleh ejekan, fanatisme yang akut ataupun karena terpancing oleh ulah para provokator yang tidak bertanggung jawab. Beberapa kasus yang terjadi antara lain bentrokan antarkubu mahasiswa yang ironisnya masih dalam satu naungan almamater di salah satu kampus di Makassar (dan ini relative sering terjadi), bentrokan antarelemen suporter sepakbola dari beberapa tim yang memiliki sejarah rivalitas yang panas (biasanya Bonekmania melawan Aremania dan Jakmania melawan Viking), serta kasus yang cukup menggemparkan yang terjadi beberapa waktu lalu, yakni tawuran yang melibatkan pelajar dari SMA 70 Jakarta dengan pelajar dari SMA 6 Jakarta yang pada akhirnya menewaskan Alawy Yusianto Putra dari SMA 6 Jakarta.

Hal ini menunjukkan ada sesuatu hal yang tak benar yang sedang terjadi di dalam dunia pendidikan negeri ini. Banyaknya kasus kekerasan, bentrokan, tawuran, maupun kriminalitas yang melibatkan pemuda, khususnya pelajar dan mahasiswa, seolah menjadi tamparan (yang sayangnya sepertinya belum menyadarkan) bahwa ada hal fundamental yang selama ini luput dari perhatian dan kurang diprioritaskan. Apa hal fundamental tersebut? Karakter. Pendidikan di Indonesia masih terpenjara dalam bingkai pengajaran formalitas-simbolistik. Proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas hanyalah sekadar ‘mengajarkan’ bukan ‘mendidik dan mengembangkan’. Peserta didik hanya dikonsentrasikan untuk meningkatkan kompetensi tanpa diimbangi upaya yang signifikan untuk mengembangkan potensi. Sekolah terlalu menitikberatkan pengembangan hardskills, namun lemah dalam pengembangan softskills. Ya, pendidikan di Indonesia masih belum secara optimal membangun karakter peserta didiknya untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya.

Melihat realita pendidikan Indonesia yang seperti itu, pemerintah pada khususnya dan seluruh lapisn masyarakat pada umumnya harus mulai menyadari dan melakukan perubahan positif untuk pendidikan yang lebih baik. Kita telah mengetahui bahwa konstitusi negeri ini telah memberikan akses yang baik untuk pengembangan pendidikan melalui substansinya yang telah mengatur bahwa anggaran pendidikan adalah 20% dari seluruh anggaran negara. Hal ini tentu menjadi sebuah kekuatan jika mampu diserap dan digunakan secara efektif dan efisien. Peningkatan kualitas dan kuantitas serta pemerataan pendidikan sejatinya akan menjadi tanggung jawab yang lebih mudah dituntaskan. Selain itu, pemerintah perlu secara proaktif mengajak masyarakat, khususnya para pelaku yang bergerak di sektor ketiga (sektor sosial), untuk turut serta berpartisipasi dalam upaya-upaya mewujudkan salah satu janji kemerdekaan yang termaktub dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu gerakan pendidikan yang mendapat respon positif dan apresiasi tinggi dari berbagai elemen masyarakat adalah gerakan Indonesia Mengajar yang digagas oleh tokoh nasional, Anies Baswedan. Selain Indonesia Mengajar, salah satu gerakan sosial di bidang pendidikan adalah Save Street Childreens yang telah ada di beberapa kota besar di Jawa. Sinergisitas yang terjalin antara pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan selaku pengambil kebijakan dengan sektor ketiga, serta melibatkan sektor privat melalui program-program Corporate Social Responsibility (CSR) tentu akan membuka jalan yang terang untuk membawa perubahan positif yang signifikan dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa demi terwujudnya manusia-manusia Indonesia yang seutuhnya.

Sepertinya saya sudah terlalu berpanjang lebar dalam ‘menelanjangi’ lagu SBY ini. Yah, menyajikan kritik sosial maupun kontemplasi kenegaraan tak harus melalui cara-cara kaku, bahasa-bahasa formal, forum-forum monoton, maupun media-media yang konvensional bukan? Ternyata melalui music, manusia Indonesia mampu berekspresi dan berkarya untuk bangsa. Ternyata melalui music, manusia Indonesia mampu memanifestasikan idealismenya dan bertahan di tengah gempuran budaya luar yang hedonis-materialistik --- K-Pop salah satunya. Saat ini, memang Indonesia belum mampu lepas sepenuhnya dari problematika yang telah menggerogotinya sejak lama, entah warisan colonial atau karena kurang mapannya watak dan karakter anak bangsa. Namun, dengan terus mengenal dan mendalami negeri ini, dengan senantiasa membuka mata hati akan realita bangsa dan negara, dan sebagai putra-putri yang dalam tubuhnya mengalir darah juang ibu pertiwi, saya yakin bahwa kita adalah generasi yang terlahir sebagai pembawa perubahan yang akan mengantarkan negeri ini menuju Indonesia yang berkeadilan dan sejahtera.

Ketika nada telah mampu mendendangkan yang tersirat, maka jiwa seharusnya telah mampu berlaku yang tersurat. Mari bersenandung, mari merenung, dan mari berbuat, sahabat! :)


Biarkan hujan basahi bumi, basahi semua mimpi yang pernah mati
Biarkan berkembang tumbuh dan bersemi semua bunga-bunga negeriku ini
Dinginnya hujan sadarkan kita terlalu lama kita telah terpenjara
Diam tak berdaya terbakar mentari hingga tak mampu teriakkan kata hati
Sudah saatnya bangun dari semua mimpi-mimpi
Sudah saatnya berdiri di kaki sendiri
Sudah saatnya tuk coba mulai perbaiki
Jangan tumpuk keinginan dan simpan di hati
Derasnya hujan dendangkan harapan hadirkan indahnya satu perubahan
Karena negeriku kau tetap negeriku
Kan ku jaga selalu agar aku tak jemu
Harusnya sadar hujan pun pasti akan berhenti
Harusnya sadar masa sulit pun pasti berakhir
Jangan biarkan mentari terus membakar hati
Jangan padamkan semangat di jiwa ini

(Tipe X – Hujan)

19 December 2012

JEJAK LANGKAHKU DI TAHUN 2012 :)

Dulu, saya termasuk orang yang acuh dengan yang namanya berfoto-foto di lokasi yang saya datangi...
Saya berpikir bahwa berfoto itu tak menghadirkan kesan apa-apa..

Tapi entah sejak kapan --- pastinya pun saya lupa --- saya menyadari bahwa ternyata mengambil gambar di lokasi-lokasi yang saya datangi itu bisa memberikn kesan tersendiri..
Bukan tentang proses pengambilan gambarnya, tapi nilai momentum yang terekam dalam hasil gambar...

Ya! saya terlambat menyadarinya...
berfoto itu bukan sekadar mengambil gambar biasa...
berfoto itu bukan sekadar berpose narsis di hadapan lensa kamera...
berfoto itu bukan sekedar  merekam saat kontemporer belaka..

Lebih dari itu,
berfoto itu memang 'mengabadikan',,
mengabadikan kehidupan...
menyimpan kenangan...
mengingatkan perjuangan...
menggoreskan kesan...
membangkitkan segenap perasaan...

dan yang pasti...
hasil dari berfoto itulah yang akan senantiasa  menjadi pengingat kita..
bahwa kadang kala, tanpa kita sadari...
kita telah melakukan lompatan kehidupan yang menyenangkan...
yang apabila kita menyadarinya...
membawa kita kepada kebahagiaan dalam rasa syukur...
serta mengantarkan kita kepada rasa syukur dalam kebahagiaan..

Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? :)


BROMO, 2012



KARIMUN JAWA, 2012

 

KLAYAR, 2012

 

SINGAPURA-MALAYSIA, 2012









dan sekali lagi...

maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? :)

21 HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI (Bagian 2)

Selamat sore, kawan :)

Setelah pada kesempatan yang lalu saya memposting 4 dari 21 Hukum Kepemimpinan Sejati dari John C. Maxwell, kali ini saya lanjutkan dengan postingan yang memaparkan 4 Hukum berikutnya...
Sisanya akan saya postingkan di kesempatan berikutnya

Selamat menikmati, dan semoga bermanfaat kawan! :D



HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI (Lanjutan)



  5.   HUKUM E. F. HUTTON
Jika Pemimpin Sejati Berbicara, Orang Akan Mendengarkan

·         Pemimpin sejati bukan hanya sekedar memegang posisi, tetapi juga kekuasaannya.
·         “Memegang kekuasaan adalah ibarat menjadi seorang wanita. Jika Anda harus mengatakan kepada orang lain bahwa Anda adalah seorang wanita, Anda bukan wanita.” (Margaret Tatcher)
·         Jika Anda melihat perbedaan antara siapa yang memimpin rapat dengan siapa yang memimpin orang, maka orang yang memimpin rapat bukanlah pemimpin yang sesungguhnya.
·         Membedakan dua jenis pemimpin:
A.    Pemimpin Atas Dasar Posisi
o   Bicara duluan
o   Membutuhkan pengaruh pemimpin yang sesungguhnya untuk membuat segalanya menjadi kenyataan.
o   Hanya mempengaruhi sesame pemimpin atas dasar posisi
B.     Pemimpin Sejati
o   Bicara belakangan
o   Hanya membutuhkan pengaruh sendiri untuk membuat segalanya menjadi kenyataan
o   Mempengaruhi semua orang yang ada dalam ruangan
·         Ujian yang sesungguhnya terhadap kepemimpinan bukanlah dari mana Anda memulai, melainkan di mana Anda berakhir.
·         Jangan dengarkan klaim orang yang mengaku sebagai pemimpinnya. Melainkan, perhatikanlah reaksi orang-orang di sekelilingnya. Bukti kepemimpinan ditemukan dalam diri pengikutnya.
·         Orang menjadi Pemimpin Sejati karena . . .
A.    Karakter --- Siapa Mereka Sesungguhnya.
a.       Kepemimpinan sejati selalu dimulai dari dalam batin. Itulah sebabnya mengapa seseorang pemimpin sejati dapat menarik semakin banyak pengikut dengan berjalannya waktu. Orang dapat merasakan kedalaman karakternya.
B.     Hubungan-Hubungan --- Siapa Saja Yang Mereka Kenal
b.      Anda menjadi pemimpin hanya jik Anda punya pengikut, dan itu selalu menuntut perkembangan hubungan-hubungan --- semakin dalam hubungannya, semakin kuat potensi untuk kepemimpinan. Bangunlah cukup banyak hubungan yang benar dengan orang yang tepat, maka Anda dapat menjadi pemimpin yang sesungguhnya dalam sebuah organisasi.
C.     Pengetahuan --- Apa Saja Yang Mereka Ketahui
c.       Informasi itu sungguh penting bagi seorang pemimpin. Anda harus menguasai fakta-faktanya, memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan visi untuk masa depan. Pengetahuan saja takkan menjadikan seorang pemimpin, namun tanpa pengetahuan, ia juga takkan dapat menjadi pemimpi.
D.    Intuisi --- Apa Yang Mereka Rasakan
d.      Kepemimpinan menuntut lebih dari sekedar penguasaan data. Kepemimpinan menuntut kemampuan untuk menangani sejumlah hal tak berwujud. (Akan dijelaskan dalam Hukum Intuisi)
E.     Pengalaman --- Sudah Ke Mana Saja Mereka.
e.       Semakin besar tantangan yang telah Anda hadapi di masa lalu, semakin besar kemungkinan para pengikut member Anda kesempatan. Pengalaman tidaklah menjamin kredibilitas, namun mendorong orang untuk member Anda kesempatan bahwa Anda mampu.
F.      Sukses-Sukses Di Masa Lalu --- Prestasi Apa Saja Yang Telah Mereka Raih
f.       Tak ada yang lebih ampuh terhadap para pengikut ketimbang catatan prestasi yang baik.
G.    Kemampuan --- Apa Yang Dapat Mereka Perbuat
g.      Ujung-ujungnya bagi para pengikut adalah apa yang mampu diperbuat seorang pemimpin. Itulah alasan mengapa orang mau mendengarkan Anda dan mengakui Anda sebagai pemimpin. Begitu mereka tidak lagi percaya akan kemampuan Anda, mereka akan berhenti mendengarkan.
·         Orang mendengarkan belum tentu karena pesan yang disampaikan itu ada benarnya, melainkan karena rasa hormat mereka kepada pembicara.
·         Bagaimana reaksi orang-orang ketika Anda berbicara? Jika Anda berbicara, apakah orang mendengarkan --- maksud saya benar-benar ­mendengarkan? Atau apakah mereka menunggu apa yang dikatakan orang lain sebelum beraksi? Anda dapat menemukan banyak fakta tentang tingkat kepemimpinan Anda jika Anda berani menjawab pertanyaan itu. Itulah kuasa Hukum E. F. Hutton.


   6.     HUKUM LANDASAN YANG MANTAP
Kepercayaan Adalah Landasan Dari Kepemimpinan

·         Dalam soal kepemimpinan, Anda pokoknya tak dapat mengambil jalan pintas, seberapa lamapun Anda sudah memimpin orang-orang Anda.
·         Kepercayaan adalah landasan kepemimpinan. Untuk membangun kepercayaan, seorang pemimpin harus memberikan teladan dalam kualitas ini: kemampuan, koneksi, dan karakter.
·         Orang-orang akan memaafkan kekeliruan sesekali berdasarkan pada kemampuan, terutama jika mereka apat melihat bahwa Anda masih bertumbuh sebagai pemimpin. Namun mereka takkan percaya kepada seseorang yang telah gagal dalam karakter. “Kepemimpinan adalah kombinasi antara strategi dengan karakter. Namun, jika toh Anda harus kehilangan yang satu, relakanlah strategi.” (Norman Schwawrzkopf)
·         Karakter mengkomunikasikan . . .
a.       Karakter mengkomunikasikan konsistensi
o   Para pemimpin yang tidak memiliki kekutan batin takkan dapat diandalkan hari demi hari karena kemampuan mereka terus berubah-ubah. Jika orang-orang Anda tidak dapat menerka sikap Anda sebagai pemimpin, suatu saat mereka takkan mencari kepemimpinan kepada Anda lagi. Cacat karakter pada para pemimpin yang gagal itu menghancurkan landasan kepemimpinan mereka.
b.      Karakter mengkomunikasikan potensi
o   “Tak seorang pun dpat melampaui keterbatasan karakternya sendiri.” (John Morley)
o   “Anda tak dapat membangun kepercayaan dengan membicarakannya. Anda membangunnya dengan mencapai hasil, selalu dengan integritas serta dengan cara yang memperlihatkan penghargaan terhadap orang lain dengan siapa Anda bekerja.” (Craig Weatherup)
o   Jika karakter seorang pemimpin itu kuat, orang akan percaya kepadanya, dan mereka akan percaya kepada kemampuannya untuk memaksimalkan potensi mereka. Hal ini tidak saja memberikan pengharapan kepada para pengikutnya, melainkan juga akan meningkatkan keyakinan kepada iri sendiri serta organisasinya.
c.       Karakter mengkomunikasikan kehormatan
o   Jika Anda tidak punya kekuatan batin, Anda takkan mendapatkan kehormatan. Dan kehormatan sangat penting bagi kepemimpinan yang langgeng. Bagaimana para pemimpin mendapatkan kehormatan? Dengan mengambil keputusan yang mantap, mengakui kekeliruannya, dan mendahulukan kepentingan pra pengikutnya dan organisasinya ketimbang kepentingan diri sendiri.
o   “Satu-satunya hal yang keluar dari kubur bersama orang-orang yang berkabung dan tidak mau dikuburkan adalah karakter seseorang. Ini benar. Karakter seseorang takkan pernah dapat dikuburkan.” (J. R. Miller)
·         Karakter memungkinkan terciptanya kepercayaan. Dan kepercayaan memungkinkan terciptanya kepemimpinan. Itulah Hukum Landasan yang Mantap.


   7.     HUKUM KEHORMATAN
Orang Dengan Sendirinya Mengikuti Pemimpin-Pemimpin Yang Lebih Kuat Daripada Dirinya

·         Jika orang menghormati seseorang sebagai individu, mereka mengaguminya. Jika mereka mengaguminya sebagai sahabat, mereka mengasihinya. Jika mereka menghormatinya sebagai pemimpin, mereka mengikutiya.
·         Orang mengikuti individu-individu yang kepemimpinannya mereka hormati. Seseorang yang kepemimpinannya bernilai 8 (pada skala dari 1 sampai 10) tidaklah mencari seseorang yang nilai kepemimpinannya 6 untuk diikutinya --- dengan sendirinya ia akan mengikuti mereka yang kepemimpinannya bernilai 9 atau 10. Sesekali, seorang pemimpin yang kuat mungkin juga mengikuti seseorang yang lebih lemah daripada dirinya. Namun jika hal itu terjadi, itu pasti ada alasannya, seperti karena rasa hormatnya terhadap prestasi orang tersebut di masa lalu atau karena mengikuti rantai komandonya. Namun secara umum, para pengikut akan tertarik kepada orang-orang yang lebih baik kepemimpinannya daripada dirinya sendiri.
·         Jika orang berkumpul untuk pertama kalinya dalam sebuah kelompok, lihatlah apa yang terjadi. Sementara mereka mulai berinteraksi, para pemimpin dalam kelompok tersebut akan segera mengambil inisiatif. Mereka berpikir menurut arah yang ingin mereka tujui dan siapa yang ingin mereka bawa serta. Pada mulanya, orang mungkin akan coba-coba ke arah-arah yang berbeda-beda, namun setelah mereka saling kenal, tidak lama lagi juga mereka akan mengenali pemimpin yang paling kuat dan mengikutinya.
·         Semakin besar kemampuan memimpin seseorang, semakin cepat ia mengenali kepemimpinan --- atau tiadanya kepemimpinan --- dalam diri orang lain.
·         “Sang pemimpin harus tahu, harus tahu bahwa ia tahu, dan harus dapat menjelaskan kepada orang-orang di sekelilingnya bahwa ia tahu.” (Clarence B. Randall)
·         Ujian terbesar terhadap kehormatan adalah ketika seorang pemimpin mengadakan perubahan besar dalam organisasinya.
·         Orang yang bernilai 9 dan 10 tidak akan mengikuti pemimpin yang bernilai 7. Itulah cara kerja kepemimpinan. Itulah rahasia Hukum Kehormatan.


   8.     HUKUM INTUISI
Para Pemimpin Mengevaluasi Segalanya Dengan Intuisi Seorang Pemimpin

·         Dari seluruh hukum kepemimpinan, Hukum Intuisi mungkin yang paling sulit dipahami. Mengapa? Karena hukum ini bergantung jauh lebih banyak dari pada sekedar fakta-faktanya saja. Hukum Intuisi diasarkan pada fakta-fakta plus naluri serta factor-faktor tak berwujud lainnya. Dan kenyataannya, intuisi pemimpin seringkali merupakan factor yang membedakan pemimpin besar dengan pemimpin yang biasa-biasa saja.
·         Para pemain hebat dapat melihat hal-hal yang tak dapat dilihat yang lainnya, mengadakan perubahan-perubahan, dan maju terus sebelum yang lainnya tahu apa yang terjadi.
·         Para pemimpin melihat segalanya dengan kecenderunga kepemimpinan, dan akibatnya secara naluriah, hampir secara otomatis, mengetahui apa yang harus diperbuat. Anda dapat melihat naluri baca-dan-bereaksi ini dalam diri semua pemimpin besar.
·         Karena intuisinya, para pemimpin mengevaluasi segalanya dengan kecenderungan kepemimpinan. Ada orang yang memang dilahirkan dengan intuisi kepemimpinan yang kuat. Yang lain harus bekerja keras untuk mengembangkan serta mengasahnya. Namun entah bagaimana berkembangnnya, hasilnya adalah perpaduan antar kemampuan alami dengan keterampilan yang dilatih. Intuisi yang terlatih ini mengakibatkan timbulnya naluri kepemimpinan. Cara terbaik untuk menggambarkan kecenderungan ini adalah kemampuan untuk menangani factor-faktor tak berwujud, memahaminya, dan bekerja dengannya untuk mencapai sasaran-sasaran kepemimpinan.
·         Intuisi membantu para pemimpin mampu membaca sejumlah factor kepemimpinan yang tak berwujud:
a.       Para pemimpin mampu membaca situasinya.
o   Kemampuan alami dan keterampilan yang dilatih menciptakan intuisi yang terlatih, yang mengakibatkan timbulnya nluri kepemimpinan.
o   Dalam segala segala keadaan, para pemimpin menangkap detil-detil situasi yang tidak ditangkap oleh yang lain.
b.      Para pemimpin mampu membaca trend.
o   Segalanya yang terjadi di sekeliling kita terjadi demikian dalam konteks gambaran yang lebih besar. Para pemimpin mampu mundur dari apa yang sedang terjadi di saat itu dan melihat tidak saja situasi yang telah dimasukinya serta orang-orangnya, melainkan juga menuju ke mana mereka itu di masa mendatang.
c.       Para pemimpin mampu membaca sumber-sumber daya mereka.
o   Perbedaan besar antara peraih prestasi dengan pemimpin adalah cara mereka memandang sumber-sumber daya. Individu-individu yang sukses berpikir menurut apa yang dapat mereka perbuat. Sebaliknya, pemimpin yang sukses memandang setiap situasi menurut sumber-sumber daya yang ada: uang, bahan baku, teknologi, dan, yang terpenting, manusia. Mereka tidak pernah melupakan bahwa sumber daya manusia adalah asset yang terbesar. Para pemimpin yang ingin sukses memaksimalkan setiap asset serta sumber daya yang mereka miliki demi kepentingan organisasi.
d.      Para pemimpin mampu membaca orang lain.
o   Para pemimpin yang intuitif dapat merasakan apa yang terjadi di antara orang-orang dan hampir seketika itu juga mengetahui pengharapan mereka, rasa takut mereka, dan keprihatinan mereka.
e.       Para pemimpin mampu membaca diri sendiri.
o   Akhirnya, pemimpin yang baik mengembangkan kemampuan untuk membaca diri sendiri --- kekuatannya, keterampilannya, kelemahannya, dan kondisi pikirannya yang sekarang. Mereka menyadari kebenaran dari apa yang pernah dikatakan oleh James Russell Lovell: “Tak seorangpun dapat menghasilkan hal-hal besar, jika tidak sepenuhnya jujur dalam menangani diri sendiri.”
·         Siapa Anda sesungguhnya menetukan apa yang Anda lihat.
·         Tiga Tingkat Intuisi Kepemimpinan:
a.       Mereka yang secara alami melihatnya.
o   Ada orang yang dilahirkan dengan karunia kepemimpinan yang lain daripada yang lain. Mereka secara naluriah memahami orang lain dan mengetahui bagaimana caranya menggerakkan orang lain dari titik A ke titik B. Orang-orang yang memiliki intuisi kepemimpinan alami dapat membangunnya dan menjadi pemimpin kelas dunia dengan caliber tertinggi. Kemampuan alami inilah yang seringkali membedakan antara yang bernilai 9 (pemimpin sempurna) dengan yang bernilai 10 (pemimpin kelas dunia).
b.      Mereka yang dilatih untuk melihatnya.
o   Tidak semua orang mulai dengan naluri yang kuat, namun kemampuan apapun yang dimiliki seseorang dapat ditumbuhkembangkan. Kemampuan untuk berpikir seperti pemimpin adalah intuisi yang terlatih. Bahkan seseorang yang tidak mulai sebagai pemimpin alami dapat menjadi pemimpin yang sempurna. Orang yang tidak mengembangkan intuisinya akan payah dalam kepemimpinannya seumur hidupnya.
c.       Mereka yang tak akan pernah melihatnya.
o   Hampir semua orang mampu mengembangkan keterampilan serta intuisi kepemimpinan. Namun sesekali ada seseorang yang tampaknya tidak memiliki sedikitpun kepemimpinan dalam dirinya dan tidak berminat untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk untuk memimpin. Orang-orang ini takkan pernah berpikir seperti apapun selain pengikut.
·         Setiap kali para pemimpin menghadapi suatu persoalan, secara otomatis mereka mengukurnya --- dan mulai menyelesaikannya --- dengan menggunakan Hukum Intuisi.
·         Kepemimpinan lebih merupakan seni ketimbang ilmu pengetahuan. Prinsip-prinsip kepemimpinan itu konstan, namun penerapannya berubah menurut setiap pemimpin serta setiap situasi. Itulah sebabnya mengapa dibutuhkan intuisi. Tanpa intuisi, Anda bisa terkecoh, dan itulah hal terburuk yang dapat terjad kepada seorang pemimpin. Jika Anda ingin memimpin untuk waktu yang lama, Anda harus mentaati Hukum Intuisi.


Bersambung .........