Setelah pada kesempatan yang lalu saya memposting 4 dari 21 Hukum Kepemimpinan Sejati dari John C. Maxwell, kali ini saya lanjutkan dengan postingan yang memaparkan 4 Hukum berikutnya...
Sisanya akan saya postingkan di kesempatan berikutnya
Selamat menikmati, dan semoga bermanfaat kawan! :D
HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI (Lanjutan)
5. HUKUM E. F.
HUTTON
Jika Pemimpin Sejati Berbicara, Orang Akan
Mendengarkan
·
Pemimpin
sejati bukan hanya sekedar memegang posisi, tetapi juga kekuasaannya.
·
“Memegang
kekuasaan adalah ibarat menjadi seorang wanita. Jika Anda harus mengatakan
kepada orang lain bahwa Anda adalah seorang wanita, Anda bukan wanita.”
(Margaret Tatcher)
·
Jika
Anda melihat perbedaan antara siapa yang memimpin rapat dengan siapa yang
memimpin orang, maka orang yang memimpin rapat bukanlah pemimpin yang
sesungguhnya.
·
Membedakan
dua jenis pemimpin:
A.
Pemimpin
Atas Dasar Posisi
o
Bicara
duluan
o
Membutuhkan
pengaruh pemimpin yang sesungguhnya untuk membuat segalanya menjadi kenyataan.
o
Hanya
mempengaruhi sesame pemimpin atas dasar posisi
B.
Pemimpin
Sejati
o
Bicara
belakangan
o
Hanya
membutuhkan pengaruh sendiri untuk membuat segalanya menjadi kenyataan
o
Mempengaruhi
semua orang yang ada dalam ruangan
·
Ujian
yang sesungguhnya terhadap kepemimpinan bukanlah dari mana Anda memulai, melainkan
di mana Anda berakhir.
·
Jangan
dengarkan klaim orang yang mengaku sebagai pemimpinnya. Melainkan,
perhatikanlah reaksi orang-orang di sekelilingnya. Bukti kepemimpinan ditemukan
dalam diri pengikutnya.
·
Orang
menjadi Pemimpin Sejati karena . . .
A.
Karakter
--- Siapa Mereka Sesungguhnya.
a.
Kepemimpinan
sejati selalu dimulai dari dalam batin. Itulah sebabnya mengapa seseorang
pemimpin sejati dapat menarik semakin banyak pengikut dengan berjalannya waktu.
Orang dapat merasakan kedalaman karakternya.
B.
Hubungan-Hubungan
--- Siapa Saja Yang Mereka Kenal
b.
Anda
menjadi pemimpin hanya jik Anda punya pengikut, dan itu selalu menuntut
perkembangan hubungan-hubungan --- semakin dalam hubungannya, semakin kuat
potensi untuk kepemimpinan. Bangunlah cukup banyak hubungan yang benar dengan
orang yang tepat, maka Anda dapat menjadi pemimpin yang sesungguhnya dalam
sebuah organisasi.
C.
Pengetahuan
--- Apa Saja Yang Mereka Ketahui
c.
Informasi
itu sungguh penting bagi seorang pemimpin. Anda harus menguasai fakta-faktanya,
memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan visi untuk masa depan.
Pengetahuan saja takkan menjadikan seorang pemimpin, namun tanpa pengetahuan,
ia juga takkan dapat menjadi pemimpi.
D.
Intuisi
--- Apa Yang Mereka Rasakan
d.
Kepemimpinan
menuntut lebih dari sekedar penguasaan data. Kepemimpinan menuntut kemampuan
untuk menangani sejumlah hal tak berwujud. (Akan
dijelaskan dalam Hukum Intuisi)
E.
Pengalaman
--- Sudah Ke Mana Saja Mereka.
e.
Semakin
besar tantangan yang telah Anda hadapi di masa lalu, semakin besar kemungkinan
para pengikut member Anda kesempatan. Pengalaman tidaklah menjamin
kredibilitas, namun mendorong orang untuk member Anda kesempatan bahwa Anda
mampu.
F.
Sukses-Sukses
Di Masa Lalu --- Prestasi Apa Saja Yang Telah Mereka Raih
f.
Tak
ada yang lebih ampuh terhadap para pengikut ketimbang catatan prestasi yang
baik.
G.
Kemampuan
--- Apa Yang Dapat Mereka Perbuat
g.
Ujung-ujungnya
bagi para pengikut adalah apa yang mampu diperbuat seorang pemimpin. Itulah
alasan mengapa orang mau mendengarkan Anda dan mengakui Anda sebagai pemimpin.
Begitu mereka tidak lagi percaya akan kemampuan Anda, mereka akan berhenti
mendengarkan.
·
Orang
mendengarkan belum tentu karena pesan yang disampaikan itu ada benarnya,
melainkan karena rasa hormat mereka kepada pembicara.
·
Bagaimana
reaksi orang-orang ketika Anda berbicara? Jika Anda berbicara, apakah orang
mendengarkan --- maksud saya benar-benar mendengarkan?
Atau apakah mereka menunggu apa yang dikatakan orang lain sebelum beraksi? Anda
dapat menemukan banyak fakta tentang tingkat kepemimpinan Anda jika Anda berani
menjawab pertanyaan itu. Itulah kuasa Hukum E. F. Hutton.
6.
HUKUM LANDASAN
YANG MANTAP
Kepercayaan Adalah Landasan Dari Kepemimpinan
·
Dalam
soal kepemimpinan, Anda pokoknya tak dapat mengambil jalan pintas, seberapa
lamapun Anda sudah memimpin orang-orang Anda.
·
Kepercayaan
adalah landasan kepemimpinan. Untuk membangun kepercayaan, seorang pemimpin
harus memberikan teladan dalam kualitas ini: kemampuan, koneksi, dan karakter.
·
Orang-orang
akan memaafkan kekeliruan sesekali berdasarkan pada kemampuan, terutama jika
mereka apat melihat bahwa Anda masih bertumbuh sebagai pemimpin. Namun mereka
takkan percaya kepada seseorang yang telah gagal dalam karakter. “Kepemimpinan
adalah kombinasi antara strategi dengan karakter. Namun, jika toh Anda harus
kehilangan yang satu, relakanlah strategi.” (Norman Schwawrzkopf)
·
Karakter
mengkomunikasikan . . .
a.
Karakter
mengkomunikasikan konsistensi
o
Para
pemimpin yang tidak memiliki kekutan batin takkan dapat diandalkan hari demi
hari karena kemampuan mereka terus berubah-ubah. Jika orang-orang Anda tidak
dapat menerka sikap Anda sebagai pemimpin, suatu saat mereka takkan mencari
kepemimpinan kepada Anda lagi. Cacat karakter pada para pemimpin yang gagal itu
menghancurkan landasan kepemimpinan mereka.
b.
Karakter
mengkomunikasikan potensi
o
“Tak
seorang pun dpat melampaui keterbatasan karakternya sendiri.” (John Morley)
o
“Anda
tak dapat membangun kepercayaan dengan membicarakannya. Anda membangunnya
dengan mencapai hasil, selalu dengan integritas serta dengan cara yang
memperlihatkan penghargaan terhadap orang lain dengan siapa Anda bekerja.”
(Craig Weatherup)
o
Jika
karakter seorang pemimpin itu kuat, orang akan percaya kepadanya, dan mereka
akan percaya kepada kemampuannya untuk memaksimalkan potensi mereka. Hal ini tidak
saja memberikan pengharapan kepada para pengikutnya, melainkan juga akan
meningkatkan keyakinan kepada iri sendiri serta organisasinya.
c.
Karakter
mengkomunikasikan kehormatan
o
Jika
Anda tidak punya kekuatan batin, Anda takkan mendapatkan kehormatan. Dan
kehormatan sangat penting bagi kepemimpinan yang langgeng. Bagaimana para
pemimpin mendapatkan kehormatan? Dengan mengambil keputusan yang mantap,
mengakui kekeliruannya, dan mendahulukan kepentingan pra pengikutnya dan
organisasinya ketimbang kepentingan diri sendiri.
o
“Satu-satunya
hal yang keluar dari kubur bersama orang-orang yang berkabung dan tidak mau
dikuburkan adalah karakter seseorang. Ini benar. Karakter seseorang takkan
pernah dapat dikuburkan.” (J. R. Miller)
·
Karakter
memungkinkan terciptanya kepercayaan. Dan kepercayaan memungkinkan terciptanya
kepemimpinan. Itulah Hukum Landasan yang Mantap.
7.
HUKUM KEHORMATAN
Orang Dengan Sendirinya Mengikuti Pemimpin-Pemimpin
Yang Lebih Kuat Daripada Dirinya
·
Jika
orang menghormati seseorang sebagai individu, mereka mengaguminya. Jika mereka
mengaguminya sebagai sahabat, mereka mengasihinya. Jika mereka menghormatinya
sebagai pemimpin, mereka mengikutiya.
·
Orang
mengikuti individu-individu yang kepemimpinannya mereka hormati. Seseorang yang
kepemimpinannya bernilai 8 (pada skala dari 1 sampai 10) tidaklah mencari
seseorang yang nilai kepemimpinannya 6 untuk diikutinya --- dengan sendirinya
ia akan mengikuti mereka yang kepemimpinannya bernilai 9 atau 10. Sesekali,
seorang pemimpin yang kuat mungkin juga mengikuti seseorang yang lebih lemah
daripada dirinya. Namun jika hal itu terjadi, itu pasti ada alasannya, seperti
karena rasa hormatnya terhadap prestasi orang tersebut di masa lalu atau karena
mengikuti rantai komandonya. Namun secara umum, para pengikut akan tertarik
kepada orang-orang yang lebih baik kepemimpinannya daripada dirinya sendiri.
·
Jika
orang berkumpul untuk pertama kalinya dalam sebuah kelompok, lihatlah apa yang
terjadi. Sementara mereka mulai berinteraksi, para pemimpin dalam kelompok
tersebut akan segera mengambil inisiatif. Mereka berpikir menurut arah yang
ingin mereka tujui dan siapa yang ingin mereka bawa serta. Pada mulanya, orang
mungkin akan coba-coba ke arah-arah yang berbeda-beda, namun setelah mereka
saling kenal, tidak lama lagi juga mereka akan mengenali pemimpin yang paling
kuat dan mengikutinya.
·
Semakin
besar kemampuan memimpin seseorang, semakin cepat ia mengenali kepemimpinan ---
atau tiadanya kepemimpinan --- dalam diri orang lain.
·
“Sang
pemimpin harus tahu, harus tahu bahwa ia tahu, dan harus dapat menjelaskan
kepada orang-orang di sekelilingnya bahwa ia tahu.” (Clarence B. Randall)
·
Ujian
terbesar terhadap kehormatan adalah ketika seorang pemimpin mengadakan
perubahan besar dalam organisasinya.
·
Orang
yang bernilai 9 dan 10 tidak akan mengikuti pemimpin yang bernilai 7. Itulah
cara kerja kepemimpinan. Itulah rahasia Hukum Kehormatan.
8.
HUKUM INTUISI
Para Pemimpin Mengevaluasi Segalanya Dengan Intuisi
Seorang Pemimpin
·
Dari
seluruh hukum kepemimpinan, Hukum Intuisi mungkin yang paling sulit dipahami.
Mengapa? Karena hukum ini bergantung jauh lebih banyak dari pada sekedar fakta-faktanya saja. Hukum
Intuisi diasarkan pada fakta-fakta plus
naluri serta factor-faktor tak berwujud lainnya. Dan kenyataannya, intuisi
pemimpin seringkali merupakan factor yang membedakan pemimpin besar dengan
pemimpin yang biasa-biasa saja.
·
Para
pemain hebat dapat melihat hal-hal yang tak dapat dilihat yang lainnya,
mengadakan perubahan-perubahan, dan maju terus sebelum yang lainnya tahu apa
yang terjadi.
·
Para
pemimpin melihat segalanya dengan kecenderunga kepemimpinan, dan akibatnya
secara naluriah, hampir secara otomatis, mengetahui apa yang harus diperbuat.
Anda dapat melihat naluri baca-dan-bereaksi ini dalam diri semua pemimpin
besar.
·
Karena
intuisinya, para pemimpin mengevaluasi segalanya dengan kecenderungan
kepemimpinan. Ada orang yang memang dilahirkan dengan intuisi kepemimpinan yang
kuat. Yang lain harus bekerja keras untuk mengembangkan serta mengasahnya.
Namun entah bagaimana berkembangnnya, hasilnya adalah perpaduan antar kemampuan
alami dengan keterampilan yang dilatih. Intuisi yang terlatih ini mengakibatkan
timbulnya naluri kepemimpinan. Cara terbaik untuk menggambarkan kecenderungan
ini adalah kemampuan untuk menangani factor-faktor tak berwujud, memahaminya,
dan bekerja dengannya untuk mencapai sasaran-sasaran kepemimpinan.
·
Intuisi
membantu para pemimpin mampu membaca sejumlah factor kepemimpinan yang tak
berwujud:
a.
Para
pemimpin mampu membaca situasinya.
o
Kemampuan
alami dan keterampilan yang dilatih menciptakan intuisi yang terlatih, yang
mengakibatkan timbulnya nluri kepemimpinan.
o
Dalam
segala segala keadaan, para pemimpin menangkap detil-detil situasi yang tidak
ditangkap oleh yang lain.
b.
Para
pemimpin mampu membaca trend.
o
Segalanya
yang terjadi di sekeliling kita terjadi demikian dalam konteks gambaran yang
lebih besar. Para pemimpin mampu mundur dari apa yang sedang terjadi di saat
itu dan melihat tidak saja situasi yang telah dimasukinya serta orang-orangnya,
melainkan juga menuju ke mana mereka itu di masa mendatang.
c.
Para
pemimpin mampu membaca sumber-sumber daya mereka.
o
Perbedaan
besar antara peraih prestasi dengan pemimpin adalah cara mereka memandang
sumber-sumber daya. Individu-individu yang sukses berpikir menurut apa yang
dapat mereka perbuat. Sebaliknya, pemimpin yang sukses memandang setiap situasi
menurut sumber-sumber daya yang ada: uang, bahan baku, teknologi, dan, yang
terpenting, manusia. Mereka tidak pernah melupakan bahwa sumber daya manusia
adalah asset yang terbesar. Para pemimpin yang ingin sukses memaksimalkan
setiap asset serta sumber daya yang mereka miliki demi kepentingan organisasi.
d.
Para
pemimpin mampu membaca orang lain.
o
Para
pemimpin yang intuitif dapat merasakan apa yang terjadi di antara orang-orang
dan hampir seketika itu juga mengetahui pengharapan mereka, rasa takut mereka,
dan keprihatinan mereka.
e.
Para
pemimpin mampu membaca diri sendiri.
o
Akhirnya,
pemimpin yang baik mengembangkan kemampuan untuk membaca diri sendiri ---
kekuatannya, keterampilannya, kelemahannya, dan kondisi pikirannya yang
sekarang. Mereka menyadari kebenaran dari apa yang pernah dikatakan oleh James
Russell Lovell: “Tak seorangpun dapat menghasilkan hal-hal besar, jika tidak
sepenuhnya jujur dalam menangani diri sendiri.”
·
Siapa
Anda sesungguhnya menetukan apa yang Anda lihat.
·
Tiga
Tingkat Intuisi Kepemimpinan:
a.
Mereka
yang secara alami melihatnya.
o
Ada
orang yang dilahirkan dengan karunia kepemimpinan yang lain daripada yang lain.
Mereka secara naluriah memahami orang lain dan mengetahui bagaimana caranya
menggerakkan orang lain dari titik A ke titik B. Orang-orang yang memiliki
intuisi kepemimpinan alami dapat membangunnya dan menjadi pemimpin kelas dunia
dengan caliber tertinggi. Kemampuan alami inilah yang seringkali membedakan
antara yang bernilai 9 (pemimpin sempurna) dengan yang bernilai 10 (pemimpin
kelas dunia).
b.
Mereka
yang dilatih untuk melihatnya.
o
Tidak
semua orang mulai dengan naluri yang kuat, namun kemampuan apapun yang dimiliki
seseorang dapat ditumbuhkembangkan. Kemampuan untuk berpikir seperti pemimpin
adalah intuisi yang terlatih. Bahkan seseorang yang tidak mulai sebagai
pemimpin alami dapat menjadi pemimpin yang sempurna. Orang yang tidak
mengembangkan intuisinya akan payah dalam kepemimpinannya seumur hidupnya.
c.
Mereka
yang tak akan pernah melihatnya.
o
Hampir
semua orang mampu mengembangkan keterampilan serta intuisi kepemimpinan. Namun
sesekali ada seseorang yang tampaknya tidak memiliki sedikitpun kepemimpinan
dalam dirinya dan tidak berminat untuk mengembangkan keterampilan yang
dibutuhkan untuk untuk memimpin. Orang-orang ini takkan pernah berpikir seperti
apapun selain pengikut.
·
Setiap
kali para pemimpin menghadapi suatu persoalan, secara otomatis mereka
mengukurnya --- dan mulai menyelesaikannya --- dengan menggunakan Hukum
Intuisi.
·
Kepemimpinan
lebih merupakan seni ketimbang ilmu pengetahuan. Prinsip-prinsip kepemimpinan
itu konstan, namun penerapannya berubah menurut setiap pemimpin serta setiap
situasi. Itulah sebabnya mengapa dibutuhkan intuisi. Tanpa intuisi, Anda bisa
terkecoh, dan itulah hal terburuk yang dapat terjad kepada seorang pemimpin.
Jika Anda ingin memimpin untuk waktu yang lama, Anda harus mentaati Hukum Intuisi.
Bersambung .........
No comments:
Post a Comment