Pages

19 December 2012

21 HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI (Bagian 2)

Selamat sore, kawan :)

Setelah pada kesempatan yang lalu saya memposting 4 dari 21 Hukum Kepemimpinan Sejati dari John C. Maxwell, kali ini saya lanjutkan dengan postingan yang memaparkan 4 Hukum berikutnya...
Sisanya akan saya postingkan di kesempatan berikutnya

Selamat menikmati, dan semoga bermanfaat kawan! :D



HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI (Lanjutan)



  5.   HUKUM E. F. HUTTON
Jika Pemimpin Sejati Berbicara, Orang Akan Mendengarkan

·         Pemimpin sejati bukan hanya sekedar memegang posisi, tetapi juga kekuasaannya.
·         “Memegang kekuasaan adalah ibarat menjadi seorang wanita. Jika Anda harus mengatakan kepada orang lain bahwa Anda adalah seorang wanita, Anda bukan wanita.” (Margaret Tatcher)
·         Jika Anda melihat perbedaan antara siapa yang memimpin rapat dengan siapa yang memimpin orang, maka orang yang memimpin rapat bukanlah pemimpin yang sesungguhnya.
·         Membedakan dua jenis pemimpin:
A.    Pemimpin Atas Dasar Posisi
o   Bicara duluan
o   Membutuhkan pengaruh pemimpin yang sesungguhnya untuk membuat segalanya menjadi kenyataan.
o   Hanya mempengaruhi sesame pemimpin atas dasar posisi
B.     Pemimpin Sejati
o   Bicara belakangan
o   Hanya membutuhkan pengaruh sendiri untuk membuat segalanya menjadi kenyataan
o   Mempengaruhi semua orang yang ada dalam ruangan
·         Ujian yang sesungguhnya terhadap kepemimpinan bukanlah dari mana Anda memulai, melainkan di mana Anda berakhir.
·         Jangan dengarkan klaim orang yang mengaku sebagai pemimpinnya. Melainkan, perhatikanlah reaksi orang-orang di sekelilingnya. Bukti kepemimpinan ditemukan dalam diri pengikutnya.
·         Orang menjadi Pemimpin Sejati karena . . .
A.    Karakter --- Siapa Mereka Sesungguhnya.
a.       Kepemimpinan sejati selalu dimulai dari dalam batin. Itulah sebabnya mengapa seseorang pemimpin sejati dapat menarik semakin banyak pengikut dengan berjalannya waktu. Orang dapat merasakan kedalaman karakternya.
B.     Hubungan-Hubungan --- Siapa Saja Yang Mereka Kenal
b.      Anda menjadi pemimpin hanya jik Anda punya pengikut, dan itu selalu menuntut perkembangan hubungan-hubungan --- semakin dalam hubungannya, semakin kuat potensi untuk kepemimpinan. Bangunlah cukup banyak hubungan yang benar dengan orang yang tepat, maka Anda dapat menjadi pemimpin yang sesungguhnya dalam sebuah organisasi.
C.     Pengetahuan --- Apa Saja Yang Mereka Ketahui
c.       Informasi itu sungguh penting bagi seorang pemimpin. Anda harus menguasai fakta-faktanya, memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan visi untuk masa depan. Pengetahuan saja takkan menjadikan seorang pemimpin, namun tanpa pengetahuan, ia juga takkan dapat menjadi pemimpi.
D.    Intuisi --- Apa Yang Mereka Rasakan
d.      Kepemimpinan menuntut lebih dari sekedar penguasaan data. Kepemimpinan menuntut kemampuan untuk menangani sejumlah hal tak berwujud. (Akan dijelaskan dalam Hukum Intuisi)
E.     Pengalaman --- Sudah Ke Mana Saja Mereka.
e.       Semakin besar tantangan yang telah Anda hadapi di masa lalu, semakin besar kemungkinan para pengikut member Anda kesempatan. Pengalaman tidaklah menjamin kredibilitas, namun mendorong orang untuk member Anda kesempatan bahwa Anda mampu.
F.      Sukses-Sukses Di Masa Lalu --- Prestasi Apa Saja Yang Telah Mereka Raih
f.       Tak ada yang lebih ampuh terhadap para pengikut ketimbang catatan prestasi yang baik.
G.    Kemampuan --- Apa Yang Dapat Mereka Perbuat
g.      Ujung-ujungnya bagi para pengikut adalah apa yang mampu diperbuat seorang pemimpin. Itulah alasan mengapa orang mau mendengarkan Anda dan mengakui Anda sebagai pemimpin. Begitu mereka tidak lagi percaya akan kemampuan Anda, mereka akan berhenti mendengarkan.
·         Orang mendengarkan belum tentu karena pesan yang disampaikan itu ada benarnya, melainkan karena rasa hormat mereka kepada pembicara.
·         Bagaimana reaksi orang-orang ketika Anda berbicara? Jika Anda berbicara, apakah orang mendengarkan --- maksud saya benar-benar ­mendengarkan? Atau apakah mereka menunggu apa yang dikatakan orang lain sebelum beraksi? Anda dapat menemukan banyak fakta tentang tingkat kepemimpinan Anda jika Anda berani menjawab pertanyaan itu. Itulah kuasa Hukum E. F. Hutton.


   6.     HUKUM LANDASAN YANG MANTAP
Kepercayaan Adalah Landasan Dari Kepemimpinan

·         Dalam soal kepemimpinan, Anda pokoknya tak dapat mengambil jalan pintas, seberapa lamapun Anda sudah memimpin orang-orang Anda.
·         Kepercayaan adalah landasan kepemimpinan. Untuk membangun kepercayaan, seorang pemimpin harus memberikan teladan dalam kualitas ini: kemampuan, koneksi, dan karakter.
·         Orang-orang akan memaafkan kekeliruan sesekali berdasarkan pada kemampuan, terutama jika mereka apat melihat bahwa Anda masih bertumbuh sebagai pemimpin. Namun mereka takkan percaya kepada seseorang yang telah gagal dalam karakter. “Kepemimpinan adalah kombinasi antara strategi dengan karakter. Namun, jika toh Anda harus kehilangan yang satu, relakanlah strategi.” (Norman Schwawrzkopf)
·         Karakter mengkomunikasikan . . .
a.       Karakter mengkomunikasikan konsistensi
o   Para pemimpin yang tidak memiliki kekutan batin takkan dapat diandalkan hari demi hari karena kemampuan mereka terus berubah-ubah. Jika orang-orang Anda tidak dapat menerka sikap Anda sebagai pemimpin, suatu saat mereka takkan mencari kepemimpinan kepada Anda lagi. Cacat karakter pada para pemimpin yang gagal itu menghancurkan landasan kepemimpinan mereka.
b.      Karakter mengkomunikasikan potensi
o   “Tak seorang pun dpat melampaui keterbatasan karakternya sendiri.” (John Morley)
o   “Anda tak dapat membangun kepercayaan dengan membicarakannya. Anda membangunnya dengan mencapai hasil, selalu dengan integritas serta dengan cara yang memperlihatkan penghargaan terhadap orang lain dengan siapa Anda bekerja.” (Craig Weatherup)
o   Jika karakter seorang pemimpin itu kuat, orang akan percaya kepadanya, dan mereka akan percaya kepada kemampuannya untuk memaksimalkan potensi mereka. Hal ini tidak saja memberikan pengharapan kepada para pengikutnya, melainkan juga akan meningkatkan keyakinan kepada iri sendiri serta organisasinya.
c.       Karakter mengkomunikasikan kehormatan
o   Jika Anda tidak punya kekuatan batin, Anda takkan mendapatkan kehormatan. Dan kehormatan sangat penting bagi kepemimpinan yang langgeng. Bagaimana para pemimpin mendapatkan kehormatan? Dengan mengambil keputusan yang mantap, mengakui kekeliruannya, dan mendahulukan kepentingan pra pengikutnya dan organisasinya ketimbang kepentingan diri sendiri.
o   “Satu-satunya hal yang keluar dari kubur bersama orang-orang yang berkabung dan tidak mau dikuburkan adalah karakter seseorang. Ini benar. Karakter seseorang takkan pernah dapat dikuburkan.” (J. R. Miller)
·         Karakter memungkinkan terciptanya kepercayaan. Dan kepercayaan memungkinkan terciptanya kepemimpinan. Itulah Hukum Landasan yang Mantap.


   7.     HUKUM KEHORMATAN
Orang Dengan Sendirinya Mengikuti Pemimpin-Pemimpin Yang Lebih Kuat Daripada Dirinya

·         Jika orang menghormati seseorang sebagai individu, mereka mengaguminya. Jika mereka mengaguminya sebagai sahabat, mereka mengasihinya. Jika mereka menghormatinya sebagai pemimpin, mereka mengikutiya.
·         Orang mengikuti individu-individu yang kepemimpinannya mereka hormati. Seseorang yang kepemimpinannya bernilai 8 (pada skala dari 1 sampai 10) tidaklah mencari seseorang yang nilai kepemimpinannya 6 untuk diikutinya --- dengan sendirinya ia akan mengikuti mereka yang kepemimpinannya bernilai 9 atau 10. Sesekali, seorang pemimpin yang kuat mungkin juga mengikuti seseorang yang lebih lemah daripada dirinya. Namun jika hal itu terjadi, itu pasti ada alasannya, seperti karena rasa hormatnya terhadap prestasi orang tersebut di masa lalu atau karena mengikuti rantai komandonya. Namun secara umum, para pengikut akan tertarik kepada orang-orang yang lebih baik kepemimpinannya daripada dirinya sendiri.
·         Jika orang berkumpul untuk pertama kalinya dalam sebuah kelompok, lihatlah apa yang terjadi. Sementara mereka mulai berinteraksi, para pemimpin dalam kelompok tersebut akan segera mengambil inisiatif. Mereka berpikir menurut arah yang ingin mereka tujui dan siapa yang ingin mereka bawa serta. Pada mulanya, orang mungkin akan coba-coba ke arah-arah yang berbeda-beda, namun setelah mereka saling kenal, tidak lama lagi juga mereka akan mengenali pemimpin yang paling kuat dan mengikutinya.
·         Semakin besar kemampuan memimpin seseorang, semakin cepat ia mengenali kepemimpinan --- atau tiadanya kepemimpinan --- dalam diri orang lain.
·         “Sang pemimpin harus tahu, harus tahu bahwa ia tahu, dan harus dapat menjelaskan kepada orang-orang di sekelilingnya bahwa ia tahu.” (Clarence B. Randall)
·         Ujian terbesar terhadap kehormatan adalah ketika seorang pemimpin mengadakan perubahan besar dalam organisasinya.
·         Orang yang bernilai 9 dan 10 tidak akan mengikuti pemimpin yang bernilai 7. Itulah cara kerja kepemimpinan. Itulah rahasia Hukum Kehormatan.


   8.     HUKUM INTUISI
Para Pemimpin Mengevaluasi Segalanya Dengan Intuisi Seorang Pemimpin

·         Dari seluruh hukum kepemimpinan, Hukum Intuisi mungkin yang paling sulit dipahami. Mengapa? Karena hukum ini bergantung jauh lebih banyak dari pada sekedar fakta-faktanya saja. Hukum Intuisi diasarkan pada fakta-fakta plus naluri serta factor-faktor tak berwujud lainnya. Dan kenyataannya, intuisi pemimpin seringkali merupakan factor yang membedakan pemimpin besar dengan pemimpin yang biasa-biasa saja.
·         Para pemain hebat dapat melihat hal-hal yang tak dapat dilihat yang lainnya, mengadakan perubahan-perubahan, dan maju terus sebelum yang lainnya tahu apa yang terjadi.
·         Para pemimpin melihat segalanya dengan kecenderunga kepemimpinan, dan akibatnya secara naluriah, hampir secara otomatis, mengetahui apa yang harus diperbuat. Anda dapat melihat naluri baca-dan-bereaksi ini dalam diri semua pemimpin besar.
·         Karena intuisinya, para pemimpin mengevaluasi segalanya dengan kecenderungan kepemimpinan. Ada orang yang memang dilahirkan dengan intuisi kepemimpinan yang kuat. Yang lain harus bekerja keras untuk mengembangkan serta mengasahnya. Namun entah bagaimana berkembangnnya, hasilnya adalah perpaduan antar kemampuan alami dengan keterampilan yang dilatih. Intuisi yang terlatih ini mengakibatkan timbulnya naluri kepemimpinan. Cara terbaik untuk menggambarkan kecenderungan ini adalah kemampuan untuk menangani factor-faktor tak berwujud, memahaminya, dan bekerja dengannya untuk mencapai sasaran-sasaran kepemimpinan.
·         Intuisi membantu para pemimpin mampu membaca sejumlah factor kepemimpinan yang tak berwujud:
a.       Para pemimpin mampu membaca situasinya.
o   Kemampuan alami dan keterampilan yang dilatih menciptakan intuisi yang terlatih, yang mengakibatkan timbulnya nluri kepemimpinan.
o   Dalam segala segala keadaan, para pemimpin menangkap detil-detil situasi yang tidak ditangkap oleh yang lain.
b.      Para pemimpin mampu membaca trend.
o   Segalanya yang terjadi di sekeliling kita terjadi demikian dalam konteks gambaran yang lebih besar. Para pemimpin mampu mundur dari apa yang sedang terjadi di saat itu dan melihat tidak saja situasi yang telah dimasukinya serta orang-orangnya, melainkan juga menuju ke mana mereka itu di masa mendatang.
c.       Para pemimpin mampu membaca sumber-sumber daya mereka.
o   Perbedaan besar antara peraih prestasi dengan pemimpin adalah cara mereka memandang sumber-sumber daya. Individu-individu yang sukses berpikir menurut apa yang dapat mereka perbuat. Sebaliknya, pemimpin yang sukses memandang setiap situasi menurut sumber-sumber daya yang ada: uang, bahan baku, teknologi, dan, yang terpenting, manusia. Mereka tidak pernah melupakan bahwa sumber daya manusia adalah asset yang terbesar. Para pemimpin yang ingin sukses memaksimalkan setiap asset serta sumber daya yang mereka miliki demi kepentingan organisasi.
d.      Para pemimpin mampu membaca orang lain.
o   Para pemimpin yang intuitif dapat merasakan apa yang terjadi di antara orang-orang dan hampir seketika itu juga mengetahui pengharapan mereka, rasa takut mereka, dan keprihatinan mereka.
e.       Para pemimpin mampu membaca diri sendiri.
o   Akhirnya, pemimpin yang baik mengembangkan kemampuan untuk membaca diri sendiri --- kekuatannya, keterampilannya, kelemahannya, dan kondisi pikirannya yang sekarang. Mereka menyadari kebenaran dari apa yang pernah dikatakan oleh James Russell Lovell: “Tak seorangpun dapat menghasilkan hal-hal besar, jika tidak sepenuhnya jujur dalam menangani diri sendiri.”
·         Siapa Anda sesungguhnya menetukan apa yang Anda lihat.
·         Tiga Tingkat Intuisi Kepemimpinan:
a.       Mereka yang secara alami melihatnya.
o   Ada orang yang dilahirkan dengan karunia kepemimpinan yang lain daripada yang lain. Mereka secara naluriah memahami orang lain dan mengetahui bagaimana caranya menggerakkan orang lain dari titik A ke titik B. Orang-orang yang memiliki intuisi kepemimpinan alami dapat membangunnya dan menjadi pemimpin kelas dunia dengan caliber tertinggi. Kemampuan alami inilah yang seringkali membedakan antara yang bernilai 9 (pemimpin sempurna) dengan yang bernilai 10 (pemimpin kelas dunia).
b.      Mereka yang dilatih untuk melihatnya.
o   Tidak semua orang mulai dengan naluri yang kuat, namun kemampuan apapun yang dimiliki seseorang dapat ditumbuhkembangkan. Kemampuan untuk berpikir seperti pemimpin adalah intuisi yang terlatih. Bahkan seseorang yang tidak mulai sebagai pemimpin alami dapat menjadi pemimpin yang sempurna. Orang yang tidak mengembangkan intuisinya akan payah dalam kepemimpinannya seumur hidupnya.
c.       Mereka yang tak akan pernah melihatnya.
o   Hampir semua orang mampu mengembangkan keterampilan serta intuisi kepemimpinan. Namun sesekali ada seseorang yang tampaknya tidak memiliki sedikitpun kepemimpinan dalam dirinya dan tidak berminat untuk mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk untuk memimpin. Orang-orang ini takkan pernah berpikir seperti apapun selain pengikut.
·         Setiap kali para pemimpin menghadapi suatu persoalan, secara otomatis mereka mengukurnya --- dan mulai menyelesaikannya --- dengan menggunakan Hukum Intuisi.
·         Kepemimpinan lebih merupakan seni ketimbang ilmu pengetahuan. Prinsip-prinsip kepemimpinan itu konstan, namun penerapannya berubah menurut setiap pemimpin serta setiap situasi. Itulah sebabnya mengapa dibutuhkan intuisi. Tanpa intuisi, Anda bisa terkecoh, dan itulah hal terburuk yang dapat terjad kepada seorang pemimpin. Jika Anda ingin memimpin untuk waktu yang lama, Anda harus mentaati Hukum Intuisi.


Bersambung .........

No comments:

Post a Comment