Pages

12 December 2012

21 HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI (Bagian 1)

Selamat sore, kawan!

Tulisan ini saya rangkai di sela-sela aktivitas saya di kantor…
Maklum saja, sebagai peserta Management Training yang baru sebulan menjalani proses On The Job Training di Wika, amanah pekerjaan yang ada masih belum terlalu menyita waktu, jadi saya coba memanfaatkan waktu agar saya tetap bisa produktif dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Dalam tulisan ini, saya akan berbagi tentang point-point ringkasan isi sebuah buku yang menurut saya sangat bagus dan aplikatif, “21 Hukum Kepemimpinan Sejati” karya John C. Maxwell.
Karena relatif banyak, maka akan saya bagi menjadi beberapa postingan yang bersambung.

Semoga bermanfaat, kawan! :)


HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI

1.     HUKUM KATUP
Kemampuan Memimpin Menentukan Tingkat Keefektifan Seseorang

·         Kemampuan memimpin adalah katup yang menentukan tingkat keefektifan seseorang. Semakin rendah kemampuan seseorang untuk memimpin, semakin sedikit katup yang terbuka bagi potensinya. Semakin tinggi kepemimpinannya, semakin besar keefektifannya --- dalam pandangan saya, semakin tinggi kepemimpinannya, semakin besar kebermanfaatannya. J
·         Semakin tinggi Anda ingin mendaki, semakin Anda membutuhkan kepemimpinan. Semakin besar dampak yang ingin Anda berikan, pengaruh Anda harus semakin besar.


 2.     HUKUM PENGARUH
Ukuran Sejati dari Kepemimpinan adalah Pengaruh --- Tidak Lebih, Tidak Kurang

·         Jika Anda tidak punya pengaruh, Anda takkan pernah dapat memimpin orang lain.
·         “Anda  telah mencapai kesempurnaan sebagai seorang pemimpin jika orang mengikuti Anda ke mana-mana walaupun hanya karena ingin tahu.” (Colin Powell)
·         Kepemimpinan sejati tak dapat dianugerahkan, ditunjuk, atau ditugaskan. Kepemimpinan hanya dating dari pengaruh, dan itu tak dapat dimandatkan. Harus diraih.
·         Lima Mitos Kepemimpinan
a.       Mitos Manajemen
Ada suatu kesalahmengertian yang luas bahwa memimpin serta mengelola itu sama.  Perbedaan utama kepemimpinan dan manajemen adalah bahwa kepemimpinan itu soal mempengaruhi orang lain sehingga menjadi pengikut, sementara manajemen memfokuskan pada sistem serta proses. Para manajer dapat mengelola arahan, namun tak dapat mengubahnya. Untuk menggerakkan orang kea rah yang baru, Anda membutuhkan pengaruh.
b.      Mitos Usahawan
Seringkali, orang berasumsi bahwa semua usahawan adalah pemimpin. Namun tidaklah selalu demikian. Orang mungkin membeli barang yang dijualnya, namun tidak menjadi pengikut dia
c.       Mitos Pengetahuan
Kebanyakan orang, yang percaya bahwa pengetahuan adalah inti dari kepemimpinan, otomatis berasumsi bahwa mereka yang memiliki pengetahuan dan intelijensilah yang menjadi pemimpin. Namun, tidak otomatis demikian. IQ belum tentu menjamin kemampuan memimpin.
d.      Mitos Pelopor
Ada lagi konsepsi keliru bahwa siapapun yan ada di depan kerumunan orang banyak adalah seorang pemimpin. Namun menjadi yang petama tidaklah selalu sama dengan memimpin. Untuk menjadi pemimpin, seseorang bukan saja harus berada di depan, melainkan juga berhasil membuat orang-orang mengikuti di belakangnya, mengikuti pimpinannya, dan menindaklanjuti visinya.
e.       Mitos Posisi
Kesalahmengertian yang terbesar tentang kepemimpinan adalah bahwa orang menyangka kepemimpinan itu didasarkan pada posisi, padahal bukan. “Bukan posisi yang menjadikan seseorang pemimpin, justru kepemimpinannyalah yang membuat posisi tersebut.” (Stanley Huffty).
·         “Inti dari segala kuasa untuk mempengaruhi terletak pada kemampuan membuat orang lain berpartisipasi.” (Harry A. Overstreet)
·         Ia yang menyangka memimpin namun tidak punya pengikut, hanya jalan-jalan saja. Jika Anda tak dapat mempengaruhi orang lain, mereka takkan menjadi pengikut Anda. Dan jika mereka tidak menjadi pengikut Anda, Anda bukan seorang pemimpin. Itulah Hukum Pengaruh.


 3.     HUKUM PROSES
Kepemimpinan Berkembang Setiap Hari, Bukan Dalam Satu Hari

·         Kepemimpinan adalah seperti berinvestasi --- yang akan berakumulasi.
Ø  Menjadi seorang pemimpin sngat mirip dengan berinvestasi dengan sukses dalam pasar saham. Jika Anda mengharapkan kaya dalam satu hari, Anda takkan berhasil.
Ø  “Rahasia sukses kita terletak dalam agenda kita sehari-hari.” (Tag Short)
Ø  Walaupun benar bahwa ada orang yang dilahirkan dengan karunia alami yang lebih besar daripada yang lain, kemampuan memimpin itu sesungguhnya merupakan kumpulan dari berbagai keterampilan, yang hampir seluruhnya dapat dipelajari serta ditingkatkan. Namun prosesnya tidak terjadi dalam semalam. Kepemimpinan itu rumit. Aspeknya sangat banyak: kehormatan, pengalaman, kekuatan emosional, keterampilan membina hubungan dengan sesame, disiplin, visi, momentum, waktu dan seterusnya. Itulah sebabnya mengapa para pemimpin membutuhkan begitu banyak pengalaman agar menjadi efektif (bermanfaat).
·         Pemimpin adalah orang yang belajar.
Ø  “Kemampuan untuk berkembang serta meningkatkan keterampilannyalah yang membedakan pemimpin dengan para pengikutnya.” (Warren Benis & Burt Nanus)
Ø  Pemimpin yang sukses adalah orang yang belajar. Dan proses belajarnya berkelanjutan, sebagai hasil dari disiplin diri dan ketekunan. Sasaran setiap harinya haruslah menjadi sedikit lebih baik, membangun di atas kemajuan hari sebelumnya.
·         Empat Fase Pertumbuhan Kepemimpinan
a.       Fase 1: Saya Tidak Tahu Apa yang Tidak Saya Ketahui.
-          Selama seseorang tidak mengetahui apa yang tidak ia ketahui, ia tidak bertumbuh.
b.      Fase 2: Saya Tahu Apa yang Tidak Saya Ketahui.
-          “Menyadari bahwa Anda tidak mengetahui fakta-faktanya adalah langkah besar menuju pengetahuan.” (Benjamin Disraeli)
c.       Fase 3: Saya Bertumbuh dan Mengetahui, dan Hal Ini Mulai Tampak.
-          Jika Anda menyadari kekurangan Anda, dan memulai disiplin pertumbuhan pribadi setiap harinya dalam kepemimpinan, terjadilah hal-hal yang menggembirakan.
-          Anda bisa menjadi pemimpin besar, namun itu takkan terjadi dalam satu hari. Mulailah membayar harganya sekarang.
d.      Fase 4: Saya Bersikap Alami karena Apa yang Saya Ketahui.
-          Dalam fase 3, Anda bisa lumayan efektif sebagai pemimpin, namun Anda harus memikirkan setiap langkah yang Anda ambil. Namun, jika Ana sudah sampai di fase 4, kemampuan Anda untuk memimpin menjadi hampir otomatis. Namun satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah mentaati Hukum Proses dan membayar harganya.
·         Untuk menjadi pemimpin besok, belajarlah hari ini.
Ø  “Rahasia sukses dalam hidup ini adalah siap ketika kesempatannya datang.” (Benjamin Disraeli)
Ø  Kemampuan memimpin Anda tidak statis sifatnya. Dari manapun Anda memulainya, Anda bisa menjadi lebih baik.
·         Berjuang ke atas.
Ø  Jika Anda ingin melihat di mana seseorang berkembang menjadi juara, lihatlah rutinitasnya sehari-hari.
Ø  “Anda bisa menyusun rencana bertanding atau rencana hidup. Tapi ketika Anda mulai beraksi, daya reflex Andalah yang bekerja. Di sanalah upaya-upaya Anda kelihatan. Jika Anda menipu diri di dalam keremangan fajar, Anda akan ketahuan di bawah sorotan lampu.” (Joe Frazier)
Ø  “Bukannya kritikus yang penting. Bukannya orang yang menunjukkan bagaimana orang kuat itu tersandung, atau di mana pelaku itu dapat melakukannya dengan lebih baik. Kreditnya adalah kepunyaan orang-orang yang benar-benar dalam arena: yang wajahnya memar, penuh keringat serta darah, yang berjuang dengan berani, yang berulang-ulang membuat kekeliruan, yang mengenal antusiasme serta berdedikasi dalam mengejar tujuan yang layak, yang dengan kemungkinan terbaik akhirnya meraih kemenangan, dan yang dengan kemungkinan terburuk jika gagal, setidaknya gagal setelah mencoba dengan berani, sehingga tempatnya takkan pernah bersamaan dengan jiwa-jiwa dingin serta pengecut yang tidak mengenal kemenangan maupun kekalahan.” (Theodore Roosevelt)
·         Orang yang berorientasi pada aksi.
·         Memupuk sukses perlahan-lahan.
·         Bukan sukses dalam semalam.
·         Jika Anda ingin menjadi seorang pemimpin, kabar baiknya adalah Anda bisa melakukannya. Semua orang memiliki potensinya, namun hal itu takkan tercapai dalam semalam. Dibutuhkan ketekunan. Dan Anda mutlak tak dapat mengabaikan Hukum Proses. Kepemimpinan tidaklah berkembang dalam satu hari. Melainkan seumur hidup.


 4.     HUKUM NAVIGASI
Siapapun Dapat Mengemudikan Kapalnya, Namun Hanya Pemimpinlah Yang Dapat Menentukan Arahnya

·         Para pengikut membutuhkan pemimpin untuk secara efektif melakukan navigasi. Jika menghadapi situasi-situasi hidup-mati, kebutuhan ini sungguh terasa. Namun, kalaupun ganjarannya tidak serius, kebutuhannya tetap besar. Sesungguhnya, hampir semua orang bisa mengendalikan kapalnya, namun hanya seorang pemimpinlah yang dapat menentukan arahnya. Itulah Hukum Navigasi.
·         Para navigator sudah mengantisipasikan perjalanan di depannya.
Ø  “Seorang pemimpin adalah seseorang yang melihat lebih banyak daripada yang dilihat orang laij, yang melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain, dan yang melihat sebelum yang lainnya melihat.” (Leroy Eims)
·         Para navigator beraksi menurut pengalaman masa lalu.
Ø  Setiap sukses atau kegagalan di masa lalu dapat menjadi sumber informai dan hikmat --- jika Anda mau menggunakannya. Sukses mengajar Anda tentang diri sendiri dan apa yang dapat Anda perbuat dengan karunia serta talenta Anda. Kegagalan menunjukkan asumsi-asumsi keliru apa yang telah Anda buat dan di mana metode-metode Anda memiliki kelemahan.
·         Para navigator mendengarkan apa yang dikatakan orang lain.
Ø  Seberapa banyaknya Anda belajar dari masa lalu, takkan pernah cukup untuk masa sekarang. Untuk itulah mengapa navigator ulung mengumpulkan informasi dari banyak sumber. Mereka bicara kepada orang-orang dalam organisasinya untuk mencari tahu apa yang terjadi di tingkat dasar. Dan mereka melewatkan waktu bersama para pemimpin di luar organisasinya yang dapat membimbing mereka.
·         Para navigator memeriksa kondisinya sebelum membuat komitmen.
Ø  Navigator yang baik memperhitungkan segalanya sebelum membuat komitmen bagi diri sendiri serta orang lainnya.
·         Para navigator memastikan kesimpulan mereka mencerminkan iman dan fakta.
Ø  Sungguh sulit untuk  menyeimbangkan optimism dengan realitas, naluri dengan perencanaan, iman dengan fakta. Namun itulah syaratnya agar efektif sebagai pemimpin yang memberikan navigasi.
·         Menentukan arah dengan strategi navigasi.
Ø  Predetermine a Course of Action  :  Tentukan dulu suatu rencana tindakan.
Ø  Lay Out Your Goals                      :  Paparkan sasaran-sasaran Anda
Ø  Adjust Your Priorities                   :  Sesuaikan prioritas-prioritas Anda
Ø  Notify Key Personne                     :  Beritahukan kepada personel kunci

Ø  Allow Time for Acceptance           :  Nantikan reaksinya hingga gagasan diterima
Ø  Head into Action                           :  Pimpinlah pelaksanaannya
Ø  Expect Problems                           :  Antisipasikan timbulnya masalah
Ø  Always Point to the Success          :  Ingatkanlah selalu sukses-sukses terdahulu
Ø  Daily Review Your Plan                :  Evaluasilah rencana Anda setiap harinya
·         Hambatan-hambatan utama terhadap perencanaan yang sukses adalah takut berubah, sikap cuek, ketidakpastian tentang masa depan, dan kurangnya imajinasi.
·         Rahasia Hukum Navigasi adalah persiapan.
·         Bukannya besar kecilnya proyek yang menentukan apakah proyek tersebut akan didukung atau tidak, berhasil atau tidak. Melainkan besar kecilnya sang pemimpin.

3 comments:

  1. Mantap mas.. hhaha.
    Tertarik dengan lima mitos kepemimpinan dalam bagian ini..

    Kalo menurut penulis lokal nih,tentang levels of leadership ada 5 juga. Hal tersebut a.l.:
    Level 1: Position
    Dengan memegang posisi, praktis tak ada orang lain yang bisa mengganggu dirinya. Bawahan ikut karena mereka harus ikut (They follow you because they have to). Tanpa tanda tangan bos, Anda tak bisa melakukan apa-apa. Ia melakukan suatu karya agung (greatness),bukan sekadar sesuatu yang baik (being good).

    Level 2: Permission
    Karena Anda bekerja dengan orang, maka bangunlah jiwa mereka dan sentuhlah hati mereka. Jangan abaikan mereka, tetapi bangunlah spirit hidup mereka. Jika ini terjadi, maka mereka akan berubah dari patuh karena harus, menjadi patuh karena diperhatikan. "They follow you, because they want to."

    Level 3: Production (Results, Hasil)
    "They follow you because what you have done for the organization."

    Level 4: People Development
    "They Follow You Because of What You Have Done for Them."

    Level 5: Personhood
    "They follow you because of who you are and what you represent."

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu tulisannya John Maxwell juga, mas.

      Delete
  2. Mantab gan.

    Kalau john maxwell itu beda dengan pengarang lain
    Seperti Dale Carbegie atau David J Scrawth
    Atau Stephen R Covey

    Dia lebih filosofis dan mendasar
    Asek

    ReplyDelete