Selamat sore,
kawan!
Tulisan ini saya
rangkai di sela-sela aktivitas saya di kantor…
Maklum saja,
sebagai peserta Management Training yang baru sebulan menjalani proses On The
Job Training di Wika, amanah pekerjaan yang ada masih belum terlalu menyita
waktu, jadi saya coba memanfaatkan waktu agar saya tetap bisa produktif dan
tidak menyia-nyiakan waktu.
Dalam tulisan
ini, saya akan berbagi tentang point-point
ringkasan isi sebuah buku yang menurut saya sangat bagus dan aplikatif, “21
Hukum Kepemimpinan Sejati” karya John C. Maxwell.
Karena relatif
banyak, maka akan saya bagi menjadi beberapa postingan yang bersambung.
Semoga
bermanfaat, kawan! :)
HUKUM KEPEMIMPINAN SEJATI
1.
HUKUM KATUP
Kemampuan Memimpin Menentukan Tingkat Keefektifan
Seseorang
·
Kemampuan
memimpin adalah katup yang menentukan tingkat keefektifan seseorang. Semakin
rendah kemampuan seseorang untuk memimpin, semakin sedikit katup yang terbuka bagi
potensinya. Semakin tinggi kepemimpinannya, semakin besar keefektifannya --- dalam pandangan saya, semakin tinggi
kepemimpinannya, semakin besar kebermanfaatannya. J
·
Semakin
tinggi Anda ingin mendaki, semakin Anda membutuhkan kepemimpinan. Semakin besar
dampak yang ingin Anda berikan, pengaruh Anda harus semakin besar.
2.
HUKUM PENGARUH
Ukuran Sejati dari Kepemimpinan adalah Pengaruh ---
Tidak Lebih, Tidak Kurang
·
Jika
Anda tidak punya pengaruh, Anda takkan pernah dapat memimpin orang lain.
·
“Anda
telah mencapai kesempurnaan sebagai
seorang pemimpin jika orang mengikuti Anda ke mana-mana walaupun hanya karena
ingin tahu.” (Colin Powell)
·
Kepemimpinan
sejati tak dapat dianugerahkan, ditunjuk, atau ditugaskan. Kepemimpinan hanya dating
dari pengaruh, dan itu tak dapat dimandatkan. Harus diraih.
·
Lima
Mitos Kepemimpinan
a.
Mitos
Manajemen
Ada suatu
kesalahmengertian yang luas bahwa memimpin serta mengelola itu sama. Perbedaan utama kepemimpinan dan manajemen
adalah bahwa kepemimpinan itu soal mempengaruhi orang lain sehingga menjadi
pengikut, sementara manajemen memfokuskan pada sistem serta proses. Para
manajer dapat mengelola arahan, namun tak dapat mengubahnya. Untuk menggerakkan
orang kea rah yang baru, Anda membutuhkan pengaruh.
b.
Mitos
Usahawan
Seringkali,
orang berasumsi bahwa semua usahawan adalah pemimpin. Namun tidaklah selalu
demikian. Orang mungkin membeli barang yang dijualnya, namun tidak menjadi
pengikut dia
c.
Mitos
Pengetahuan
Kebanyakan
orang, yang percaya bahwa pengetahuan adalah inti dari kepemimpinan, otomatis
berasumsi bahwa mereka yang memiliki pengetahuan dan intelijensilah yang
menjadi pemimpin. Namun, tidak otomatis demikian. IQ belum tentu menjamin
kemampuan memimpin.
d.
Mitos
Pelopor
Ada lagi
konsepsi keliru bahwa siapapun yan ada di depan kerumunan orang banyak adalah
seorang pemimpin. Namun menjadi yang petama tidaklah selalu sama dengan
memimpin. Untuk menjadi pemimpin, seseorang bukan saja harus berada di depan,
melainkan juga berhasil membuat orang-orang mengikuti di belakangnya, mengikuti
pimpinannya, dan menindaklanjuti visinya.
e.
Mitos
Posisi
Kesalahmengertian
yang terbesar tentang kepemimpinan adalah bahwa orang menyangka kepemimpinan
itu didasarkan pada posisi, padahal bukan. “Bukan posisi yang menjadikan
seseorang pemimpin, justru kepemimpinannyalah yang membuat posisi tersebut.”
(Stanley Huffty).
·
“Inti
dari segala kuasa untuk mempengaruhi terletak pada kemampuan membuat orang lain
berpartisipasi.” (Harry A. Overstreet)
·
Ia
yang menyangka memimpin namun tidak punya pengikut, hanya jalan-jalan saja.
Jika Anda tak dapat mempengaruhi orang lain, mereka takkan menjadi pengikut
Anda. Dan jika mereka tidak menjadi pengikut Anda, Anda bukan seorang pemimpin.
Itulah Hukum Pengaruh.
3.
HUKUM PROSES
Kepemimpinan Berkembang Setiap Hari, Bukan Dalam
Satu Hari
·
Kepemimpinan
adalah seperti berinvestasi --- yang akan berakumulasi.
Ø Menjadi seorang
pemimpin sngat mirip dengan berinvestasi dengan sukses dalam pasar saham. Jika
Anda mengharapkan kaya dalam satu hari, Anda takkan berhasil.
Ø “Rahasia sukses
kita terletak dalam agenda kita sehari-hari.” (Tag Short)
Ø Walaupun benar
bahwa ada orang yang dilahirkan dengan karunia alami yang lebih besar daripada
yang lain, kemampuan memimpin itu sesungguhnya merupakan kumpulan dari berbagai
keterampilan, yang hampir seluruhnya dapat dipelajari serta ditingkatkan. Namun
prosesnya tidak terjadi dalam semalam. Kepemimpinan itu rumit. Aspeknya sangat
banyak: kehormatan, pengalaman, kekuatan emosional, keterampilan membina
hubungan dengan sesame, disiplin, visi, momentum, waktu dan seterusnya. Itulah
sebabnya mengapa para pemimpin membutuhkan begitu banyak pengalaman agar
menjadi efektif (bermanfaat).
·
Pemimpin
adalah orang yang belajar.
Ø “Kemampuan untuk
berkembang serta meningkatkan keterampilannyalah yang membedakan pemimpin
dengan para pengikutnya.” (Warren Benis & Burt Nanus)
Ø Pemimpin yang
sukses adalah orang yang belajar. Dan proses belajarnya berkelanjutan, sebagai
hasil dari disiplin diri dan ketekunan. Sasaran setiap harinya haruslah menjadi
sedikit lebih baik, membangun di atas kemajuan hari sebelumnya.
·
Empat
Fase Pertumbuhan Kepemimpinan
a.
Fase
1: Saya Tidak Tahu Apa yang Tidak Saya Ketahui.
-
Selama
seseorang tidak mengetahui apa yang tidak ia ketahui, ia tidak bertumbuh.
b.
Fase
2: Saya Tahu Apa yang Tidak Saya Ketahui.
-
“Menyadari
bahwa Anda tidak mengetahui fakta-faktanya adalah langkah besar menuju
pengetahuan.” (Benjamin Disraeli)
c.
Fase
3: Saya Bertumbuh dan Mengetahui, dan Hal Ini Mulai Tampak.
-
Jika
Anda menyadari kekurangan Anda, dan memulai disiplin pertumbuhan pribadi setiap
harinya dalam kepemimpinan, terjadilah hal-hal yang menggembirakan.
-
Anda
bisa menjadi pemimpin besar, namun itu takkan terjadi dalam satu hari. Mulailah
membayar harganya sekarang.
d.
Fase
4: Saya Bersikap Alami karena Apa yang Saya Ketahui.
-
Dalam
fase 3, Anda bisa lumayan efektif sebagai pemimpin, namun Anda harus memikirkan
setiap langkah yang Anda ambil. Namun, jika Ana sudah sampai di fase 4,
kemampuan Anda untuk memimpin menjadi hampir otomatis. Namun satu-satunya cara
untuk sampai ke sana adalah mentaati Hukum Proses dan membayar harganya.
·
Untuk
menjadi pemimpin besok, belajarlah hari ini.
Ø “Rahasia sukses
dalam hidup ini adalah siap ketika kesempatannya datang.” (Benjamin Disraeli)
Ø Kemampuan
memimpin Anda tidak statis sifatnya. Dari manapun Anda memulainya, Anda bisa
menjadi lebih baik.
·
Berjuang
ke atas.
Ø Jika Anda ingin
melihat di mana seseorang berkembang menjadi juara, lihatlah rutinitasnya
sehari-hari.
Ø “Anda bisa
menyusun rencana bertanding atau rencana hidup. Tapi ketika Anda mulai beraksi,
daya reflex Andalah yang bekerja. Di sanalah upaya-upaya Anda kelihatan. Jika
Anda menipu diri di dalam keremangan fajar, Anda akan ketahuan di bawah sorotan
lampu.” (Joe Frazier)
Ø “Bukannya
kritikus yang penting. Bukannya orang yang menunjukkan bagaimana orang kuat itu
tersandung, atau di mana pelaku itu dapat melakukannya dengan lebih baik.
Kreditnya adalah kepunyaan orang-orang yang benar-benar dalam arena: yang
wajahnya memar, penuh keringat serta darah, yang berjuang dengan berani, yang
berulang-ulang membuat kekeliruan, yang mengenal antusiasme serta berdedikasi
dalam mengejar tujuan yang layak, yang dengan kemungkinan terbaik akhirnya
meraih kemenangan, dan yang dengan kemungkinan terburuk jika gagal, setidaknya
gagal setelah mencoba dengan berani, sehingga tempatnya takkan pernah bersamaan
dengan jiwa-jiwa dingin serta pengecut yang tidak mengenal kemenangan maupun
kekalahan.” (Theodore Roosevelt)
·
Orang
yang berorientasi pada aksi.
·
Memupuk
sukses perlahan-lahan.
·
Bukan
sukses dalam semalam.
·
Jika
Anda ingin menjadi seorang pemimpin, kabar baiknya adalah Anda bisa
melakukannya. Semua orang memiliki potensinya, namun hal itu takkan tercapai
dalam semalam. Dibutuhkan ketekunan. Dan Anda mutlak tak dapat mengabaikan
Hukum Proses. Kepemimpinan tidaklah berkembang dalam satu hari. Melainkan
seumur hidup.
4.
HUKUM NAVIGASI
Siapapun Dapat Mengemudikan Kapalnya, Namun Hanya
Pemimpinlah Yang Dapat Menentukan Arahnya
·
Para
pengikut membutuhkan pemimpin untuk secara efektif melakukan navigasi. Jika
menghadapi situasi-situasi hidup-mati, kebutuhan ini sungguh terasa. Namun,
kalaupun ganjarannya tidak serius, kebutuhannya tetap besar. Sesungguhnya,
hampir semua orang bisa mengendalikan kapalnya, namun hanya seorang pemimpinlah
yang dapat menentukan arahnya. Itulah Hukum Navigasi.
·
Para
navigator sudah mengantisipasikan perjalanan di depannya.
Ø “Seorang
pemimpin adalah seseorang yang melihat lebih banyak daripada yang dilihat orang
laij, yang melihat lebih jauh daripada yang dilihat orang lain, dan yang
melihat sebelum yang lainnya melihat.” (Leroy Eims)
·
Para
navigator beraksi menurut pengalaman masa lalu.
Ø Setiap sukses
atau kegagalan di masa lalu dapat menjadi sumber informai dan hikmat --- jika
Anda mau menggunakannya. Sukses mengajar Anda tentang diri sendiri dan apa yang
dapat Anda perbuat dengan karunia serta talenta Anda. Kegagalan menunjukkan
asumsi-asumsi keliru apa yang telah Anda buat dan di mana metode-metode Anda
memiliki kelemahan.
·
Para
navigator mendengarkan apa yang dikatakan orang lain.
Ø Seberapa
banyaknya Anda belajar dari masa lalu, takkan pernah cukup untuk masa sekarang.
Untuk itulah mengapa navigator ulung mengumpulkan informasi dari banyak sumber.
Mereka bicara kepada orang-orang dalam organisasinya untuk mencari tahu apa
yang terjadi di tingkat dasar. Dan mereka melewatkan waktu bersama para
pemimpin di luar organisasinya yang dapat membimbing mereka.
·
Para
navigator memeriksa kondisinya sebelum membuat komitmen.
Ø Navigator yang
baik memperhitungkan segalanya sebelum membuat komitmen bagi diri sendiri serta
orang lainnya.
·
Para
navigator memastikan kesimpulan mereka mencerminkan iman dan fakta.
Ø Sungguh sulit
untuk menyeimbangkan optimism dengan
realitas, naluri dengan perencanaan, iman dengan fakta. Namun itulah syaratnya
agar efektif sebagai pemimpin yang memberikan navigasi.
·
Menentukan
arah dengan strategi navigasi.
Ø
Predetermine a
Course of Action : Tentukan dulu suatu rencana tindakan.
Ø
Lay Out Your
Goals : Paparkan sasaran-sasaran Anda
Ø
Adjust Your
Priorities : Sesuaikan prioritas-prioritas Anda
Ø
Notify Key
Personne : Beritahukan kepada personel kunci
Ø
Allow Time for
Acceptance : Nantikan reaksinya hingga gagasan diterima
Ø
Head into Action : Pimpinlah pelaksanaannya
Ø
Expect Problems : Antisipasikan timbulnya masalah
Ø
Always Point to
the Success : Ingatkanlah selalu sukses-sukses terdahulu
Ø
Daily Review Your
Plan : Evaluasilah rencana Anda setiap harinya
·
Hambatan-hambatan
utama terhadap perencanaan yang sukses adalah takut berubah, sikap cuek,
ketidakpastian tentang masa depan, dan kurangnya imajinasi.
·
Rahasia
Hukum Navigasi adalah persiapan.
·
Bukannya
besar kecilnya proyek yang menentukan apakah proyek tersebut akan didukung atau
tidak, berhasil atau tidak. Melainkan besar kecilnya sang pemimpin.
Mantap mas.. hhaha.
ReplyDeleteTertarik dengan lima mitos kepemimpinan dalam bagian ini..
Kalo menurut penulis lokal nih,tentang levels of leadership ada 5 juga. Hal tersebut a.l.:
Level 1: Position
Dengan memegang posisi, praktis tak ada orang lain yang bisa mengganggu dirinya. Bawahan ikut karena mereka harus ikut (They follow you because they have to). Tanpa tanda tangan bos, Anda tak bisa melakukan apa-apa. Ia melakukan suatu karya agung (greatness),bukan sekadar sesuatu yang baik (being good).
Level 2: Permission
Karena Anda bekerja dengan orang, maka bangunlah jiwa mereka dan sentuhlah hati mereka. Jangan abaikan mereka, tetapi bangunlah spirit hidup mereka. Jika ini terjadi, maka mereka akan berubah dari patuh karena harus, menjadi patuh karena diperhatikan. "They follow you, because they want to."
Level 3: Production (Results, Hasil)
"They follow you because what you have done for the organization."
Level 4: People Development
"They Follow You Because of What You Have Done for Them."
Level 5: Personhood
"They follow you because of who you are and what you represent."
itu tulisannya John Maxwell juga, mas.
DeleteMantab gan.
ReplyDeleteKalau john maxwell itu beda dengan pengarang lain
Seperti Dale Carbegie atau David J Scrawth
Atau Stephen R Covey
Dia lebih filosofis dan mendasar
Asek